Juli 2, 2008 pada 8:35 pm (Tokoh wayang)
Tags: bagong, wayang
Bagong berasal dari bayangan Semar. Tersebut dalam cerita, ketika Semar dititahkan turun ke dunia, maka ia minta kepada Dewa, seseorang yang akan menjadi temannya. Sabda Dewa: “Bayanganmulah yang akan menjadi temanmu”. Seketika itu juga bayangan Semar berwujud manusia, diberi nama Bagong, berarti bergerak, berasal dari gerakan bayangan Semar.
Bagong beradat lancang, bila mendengar orang berkata kemudian disambungnya dengan berlagak bodoh. Menurut riwayat pedalangan, pada zaman Mataram, ada seorang dalang bernama Panyangmas. Keturunan Panyangmas itu, mengembara ke Jawa Timur. Waktu memainkan wayang dengan menggunakan lawakan Semar, Gareng dan Petruk. Adapun yang mengembara ke Jawa Barat, menggunakan wayang Semar dan Bagong.
Tetapi kenyataannya di zaman sekarang ini, baik di Jawa Barat menggunakan semua tokoh punakawan. Begitupun di tempat lainnya ada yang menggunakan Bagong saja. Dalang yang menggunakan Bagong ini disebut dalang Bagong.
Menurut riwayat, jika keturunan dalang itu adalah perempuan, maka bila suaminya seorang dalang ia harus minta izin pada istrinya ketika akan mendalang.
BENTUK WAYANG
Bagong bersuara besar dan kendor di dalam leher. Bagong bermata bentuk pecicilan (membeliak), hidung pesek, bibir bawah panyang-tebal, kepala gundul, ada juga yang gombak, perut besar, burut pusat. Bergelang, Berkain bentuk rapekan dagelan.
Bagong, berwanda : 1 Gilut, karangan Sri Sultan Agung. 2 Gembor; 3. Ngengkel dan 4. Roti
Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.
2 Tanggapan
Juli 2, 2008 pada 8:32 pm (Tokoh wayang)
Tags: petruk, wayang
Petruk adalah salah satu anak Semar, berasal dari pemujaan juga. la bermuka manis, penuh dengan senyuman yang menarik hati dan pandai bercakap dengan kelucuannya.
Petruk pernah menjadi raja di negeri Ngrancangkencana, bernama Helgeduelbek. Kesaktiannya pada masa itu karena melarikan surat Kalimahusada, pusaka Pandawa setelah lakon Mustakaweni. Tak ada seorangpun dapat mengalahkannya, sekalipun Dewa. Tetapi berhasil ditundukkan oleh Gareng, lalu kembali pada asalnya, yakni Petruk biasa. Petruk, Gareng dan Semar tak pernah berpisah dan senantiasa mengikuti Arjuna dan keturunannya.
BENTUK WAYANG
Petruk bermata keran (juling) hidung panyang, mulut lebar, bibir tersenyum dan rambut berkuncir. Berkain dagelan (lawak). Bersenjata golok dan berkeris sengkalan (Jawa: uleg-uleg). Petruk berwanda: 1) Jlegong, 2) Jamblang. Kedua wanda ini konon kabarnya adalah karangan Sri Sultan Agung di Mataram 3) Mesem 4) DIongeh
5) Dlonggop dan 6) Moblong.
Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.
Tinggalkan sebuah Komentar
Juli 2, 2008 pada 8:28 pm (Tokoh wayang)
Tags: gareng, wayang
Gareng adalah anak Semar yang didapat dengan memuja. Nalagareng berarti, hati yang kering, karena seorang yang tak pandai bicara, apa yang dikatakannya serba salah, dan tak mau mengakui hal tersebut.
Gareng pernah menjadi raja di Paranggumiwang, bernama Pandubergola, diangkat oleh Dewi Wara Sumbadra, yang pada waktu Dewi itu menjadi raja di negeri Paranggumiwang. Pengangkatan Gareng itu hanya untuk menyamarkan diri Dewi itu, supaya ia tidak diketahui oleh kerabat Pandawa. Tetapi ia dikalahkan oleh Petruk, lalu kembali pada asalnya, yakni Gareng biasa. Gareng, Petruk dan Semar tak pernah berpisah dan senantiasa mengikuti Arjuna dan keturunannya.
BENTUK WAYANG
Gareng bermata keran (juling), hidung bundar, berkalung, berkuncir, berkain bentuk rapekan lawak (Jawa: dagelan). Kedua tangannya cekot, kaki hadapan berpenyakit bubul. Berkeris.
Gareng berwanda : 1) Wregul, 2) Kancil, 3) Bayang dan 4) Yanggleng.
Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.
Tinggalkan sebuah Komentar