RADEN GATOTKACA

Raden Gatotkaca

Raden Gatotkaca

Raden Gatotkaca adalah putera Raden Wrekudara yang kedua. Ibunya seorang putri raksasa bernama Dewi Arimbi di Pringgandani. Waktu dilahirkan Gatotkaca berupa raksasa, karena sangat saktinya tidak ada senjata yang dapat memotong tali pusatnya. Kemudian tali pusat itu dapat juga dipotong dengan senjata Karna yang bernama Kunta, tetapi sarung senjata itu masuk ke dalam perut Gatotkaca, dan menambah lagi kesaktiannya.
Dengan kehendak dewa-dewa, bayi Gatotkaca itu dimasak seperti bubur dan diisi dengan segala kesaktian; karena. itu Raden Gatotkaca berurat kawat, bertulang besi, berdarah gala-gala, dapat terbang di awan dan duduk di atas awan yang melintang. Kecepatan Gatotkaca pada waktu terbang di awan bagai kilat dan liar bagai halilintar. Kesaktiannya dalam perang, dapat mencabut leher. musuhnya dengan digunakan pada saat yang penting. Gatotkaca diangkat jadi raja di Pringgadani dan ia disebut kesatria di Pringgadani, karena pemerintahan negara dikuasai oleh keturunan dari pihak perempuan. Dalam perang Baratayudha Gatotkaca tewas oleh senjata Kunta yang ditujukan kepada Gatotkaca. Ketika Gatotkaca bersembunyi dalam awan. Gatotkaca jatuh dari angkasa dan mengenai kereta kendaraan Karna hingga hancur lebur. Gatotkaca beristerikan saudara misan, bernama Dewi Pregiwa, puteri Raden Arjuna.


Dalam riwayat, Gatotkaca mati masih sangat muda, hingga sangat disesali oleh sekalian keluarganya.
Menurut kata dalang waktu Raden Gatotkaca akan mengawan, diucapkan seperti berikut :
Tersebutlah, pakaian Raden Gatotkaca yang juga disebut kesatria di Pringgadani: Berjamang mas bersinar-sinar tiga susun, bersunting mas berbentuk bunga kenanga dikarangkan berupa surengpati. (Surengpati berarti berani pada ajalnya. Sunting serupa ini juga dipakai untuk seorang murid waktu menerima ilmu dari gurunya bagi ilmu kematian, untuk lambang bah.wa orang yang menerima ilmu itu takkan takut pada kematiannya). Bergelung (sanggul) bentuk supit urang tersangga oleh praba, berkancing sanggul mas tua bentuk garuda membelakang dan bertali ulur-ulur bentuk naga terukir, berpontoh nagaraja, bergelang kana (gelang empat segi). Berkain (kampuh) sutera jingga, dibatik dengan lukisan seisi hutan, berikat-pinggang cindai hijau, becelana cindai biru, berkeroncong suasa bentuk nagaraja, uncal diberi emas anting.


Diceritakan, Raden Gatotkaca waktu akan berjalan ia berterumpah Padakacarma, yang membuatnya dapat terbang tanpa sayap. Bersongkok Basunanda, walaupun pada waktu panas terik takkan kena panas, bila hujan tak kena air hujan. Diceritakan Raden Gatotkaca menyingsingkan kain bertaliwanda, ialah kain itu dibelitkan pada badan bagian belakang Raden Gatotkaca segera menepuk bahu dan menolakkan kakinya kebumi, terasa bumi itu mengeram di bawah kakinya. Mengawanlah ia keangkasa.
Wayang itu diujudkan sebagai terbang, ialah dijalan kain, dari kanan ke kiri, dibagian kelir atas beberapa kali lalu dicacakkan, ibarat berhenti di atas awan, dan dalang bercerita pula, Tersebutlah Raden Gatotkaca telah mengawan, setiba di angkasa terasa sebagai menginjak daratan, menyelam di awan biru, mengisah awan di hadapannya dan tertutuplah oleh awan di belakangnya, samar samar tertampak ia di pandangan orang. Sinar pakaian Gatotkaca yang kena sinar matahari sebagai kilat memburunya. Maka berhentilah kesatria Pringgadani di awan melintang, menghadap pada awan yang lain dengan melihat ke kanan dan ke kiri. Setelah hening pemandangan Gatotkaca, turunlah ia dari angkasa menuju ke bumi,
Adipati Karna waktu perang Baratayudha berperang tanding melawan Gatotkaca. Karna melepaskan senjata kunta Wijayadanu, kenalah Gatotkaca dengan senjata itu pada pusatnya. Setelah Gatotkaca kena panah itu jatuhlah Gatotkaca dari angkasa,, menjatuhi kereta kendaraan Karna, hingga hancur lebur kereta itu.
Tersebut dalam cerita, Raden Gatotkaca seorang kesatria yang tak pernah bersolek, hanya berpakaian bersahaja, jauh dari pada wanita. Tetapi setelah Gatotkaca melihat puteri Raden Arjuna, Dewi Pregiwa, waktu diiring oleh Raden Angkawijaya, Raden Gatotkaca jatuh hati lantaran melihat puteri itu berhias serba bersahaja. Berubah tingkah Raden. Gatotkaca ini diketahui oleh ibunya (Dewi Arimbi) dengan sukacita dan menuruti segala permintaan Raden Gatotkaca. Kemudian puteri ini diperisteri Raden Gatotkaca.

BENTUK WAYANG

Gatotkaca bermata telengan (membelalak), hidung dempak, berkumis dan beryanggut. Berjamang tiga susun, bersunting waderan, sanggul kadal-menek, bergaruda membelakang, berpraba, berkalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkain kerajaan lengkap.
Gatotkaca berwanda 1 Guntur, 2 Kilat 3 Tatit. 4 Tatit sepuh, 5 Mega dan 6 Mendung.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

About these ads

83 Komentar

  1. aryo said,

    Oktober 21, 2008 at 3:42 am

    Antareja atau Antasena?
    Antasena lahir dari rahim Dewi Urang Ayu, putri Hyang Baruna. Sementara Antareja lahir dari Nagagini, putri Hyang Antaboga…
    Versi ini masuk dalam Gagrak Surakarta.

    Antasena anak tertua dari Bima – adegan penyemplungan Bratasena ke dalam sungai dan di muara ia bertemu dengan ular beracun, di tepi sungai ia diselamatkan oleh udang, Urang Ayu.

    Antareja anak Nagagini di Saptaparatala, manakala Bima terjebak di Bale Sigala-Gala Pandawa diselamatkan Berang-berang putih.

    Gatotkaca anak Arimbi dengan Bima, saat proses pembabatan Wanamarta.

    • pamilih said,

      April 27, 2010 at 8:29 am

      Mas Aryo yang ganteng!? Apa tidak salah R. Antaseno kog anak tertua ? padahal banyak dalang menceritakan bahwa R. Antaseno kalau manggil R. Antarejo maupun R. Gatutkaca adalah kakang, mana yang benar nhiiiiii…..i ?

      • hahahah said,

        Desember 2, 2010 at 10:47 am

        hahahahah wes geg do gelut !! seng bener seng endi !!!

      • nopriko said,

        Agustus 12, 2011 at 3:34 am

        ya betul R.anataseno anak tertua,tetapi gatutkaca yang di tuakan

      • Sastrowijoyo said,

        Januari 31, 2013 at 7:05 am

        Begina Mas-mas,
        Versi Surakarta: Anak Bima ada 2 (dua) 1. R. Antasena yang juga dipanggil R. Antareja atan Hanantareja dari ibu Bathari Nagagini. 2. R. Gathutkaca atau Tetuka anak dari Arimbi.
        Versi Yogya: Anak Bima ada 3 (tiga) 1. R. Antareja, 2. R. Gathutkaca, 3. R. Antasena putra dari Dewi Urangayu.
        Belakangan beberapa dalang Surakarta sering memainkan putra Bima 3 orang, seperti versi Yogya. Tidak ada yang salah.
        Demikian.-

  2. bosangjay said,

    Oktober 21, 2008 at 9:20 am

    Terimakasih atas tanggapannya.

    Yang ada katakan memang ada benarnya, tapi cerita yang saya ambil ini berasal dari gagrag (gaya) surakarta dan menurut pakem surakarta antareja = antasena. Disini dalam bagian perihal saya sudah jelaskan kalau saya mengambil gagrag surkarta.

  3. izmantoko said,

    Desember 28, 2008 at 10:23 pm

    Wah, thx ceritanya. Keren!
    Saya juga pernah jadi Gatotkaca pas tampil di acara kampus.

  4. arida said,

    Januari 8, 2009 at 11:57 am

    Bisa ngga diceritakan bagaimana karakter gatotkaca? Terimakasih sebelumnya

  5. bosangjay said,

    Januari 8, 2009 at 1:15 pm

    Yah mudah mudahan ada sumbernya

  6. viz4rd said,

    Januari 12, 2009 at 10:24 am

    untung ad cerita gatotkaca di blog ini
    thanx ya sudah memuat gatotkaca (tugas sekolah)
    kunjungi juga blogku donk
    4rchiviz4rd.wordpress.com

  7. Dhimas Lintang sadewo said,

    Februari 14, 2009 at 9:27 am

    Anda suka Gathutkaca? Saya juga suka. Kalau mau tukar info soal wayang, bisa hubungi saya di emailnya. Atau kunjungi dlintangsppki.blogspot.com untuk tukar pikiran soal menulisssss…..

  8. Gatot putra tato wicaksono said,

    Juni 3, 2009 at 5:19 pm

    ckckckc…asli saya baru tau gathutkaca…itu ternyata keren banget!!!
    kalo saja didunia ini ada yang seperti dia pasti….superman dan kawan”nya pasti tiada..heheee….

  9. anton said,

    Juli 28, 2009 at 10:13 am

    matur nuwun sanget kangge website puniko..mugi mugi budoyo jawi saget dipun lestariaken…

  10. Satsya Yoga said,

    Juli 29, 2009 at 12:53 pm

    Mas sebenarnya senjata kuntawijaya itu wujudnya tombak atau panah???
    saya pernah baca komiknya RA kosasih yg jdulnya bharatayudha,disitu senjata kunta itu wujudnya tombak
    terima kasih banyak mas.

    • bosangjay said,

      Agustus 9, 2009 at 1:25 pm

      Kunta bukan panah atau tombak, bentuknya seperti mata tombak (tanpa pegangan)

      • satrio said,

        Desember 11, 2010 at 4:47 am

        maaf menanggapi..,setau saya kunta wijayandanu berbentuk panah karena kunta juga punya wadah ( warangka) yang sejatinya ada di dalam perut R gatotkaco,

  11. nova rr said,

    Agustus 11, 2009 at 4:42 am

    Sak ngertiku Antareja (Naga Gini) anak tertua Werkudara (Bima), lagi Gatotkaca (Arimbi), lan Antasena (Urang Ayu). Ing perang barata yudha Gatotkaca gugur dening panah kuntanandanu Adipati Karna, wektu ndelik ing mega malang. Panah kunta dituntun karo Kala Bendana (paman Gatotkaca) wektu nggoleki Gatotkaca ing mega malang. Kala Bendana iku pamane Gatotkaca sing tewas dening Gatotkaca kanthi ora sengaja.

    • satrio said,

      Desember 11, 2010 at 4:48 am

      betul sekali bro…..

  12. clashofdesire said,

    Agustus 11, 2009 at 4:59 pm

    Hi Bosangjay

    Sebelumnya saya mau blg info ttg wayang yg anda taro sangat detail dan lengkap sekaliii…
    Saya lagi menganalisa wayang orang bharata di jakarta dan kebetulan lagi focus ke gatot kaca dan pas google gatot kaca, website pertama yg saya dapet itu website anda
    Boleh ga ya saya taro link anda di website blog saya untuk keterangan lebih lanjut mengenai gatot kaca dan sekaligus ttg wayang indonesia?

    thanx in advance!

  13. Sri Widodo said,

    Agustus 24, 2009 at 8:33 am

    Aku lali, kalau gatotkaca itu masih saudaranya werkudara bukan ya …

    • Adri said,

      Agustus 19, 2010 at 7:32 pm

      Raden Gatotkaca kan emg putra Raden Werkudara

  14. julian persikmania said,

    September 8, 2009 at 6:02 am

    gatotkaca mboyzz banget. . . .
    yoi. . .

  15. agung prabowo said,

    Oktober 4, 2009 at 4:15 am

    kereen mas, kbetulan sekolah ku jg pake nama kecilnya gatotokaca ( TETUKO aviation institute). mas, bisa bantu cariin semboyan yang keren bwt dipita logo yang ada hubungannya dgn ksatrya pringggondani ini gak? thx b4

  16. Iskandar said,

    Oktober 21, 2009 at 11:42 pm

    Gathotkaca (Ejaan Jawa) memiliki nama lain, yakni Tetuka, Kacanegara, Arimbatmaja dan sebagainya. Dia berguru kepada Resi Seta, masih kakek jauhnya. Ia tumbuh menjadi seorang ksatria gagah perkasa dan seorang panglima dalam perang Bharatayuda. Namun dia juga memiliki kesalahan terutama dengan Kalabendana, pamannya. Ketika Kalabendana diminta untuk tidak menceritakan kepada Siti Sendari, istri Abimanyu, tentang hal ikwal perkawinan Abimayu dewan Dewi Utari. Ini perkawinan Abimanyu yang kedua. Tatkala Siti Sendari bertanya, Kalabendana tetap bercerita apa adanya, sehingga Gathotkaca mengingatkan pamannya itu untuk tidak menceritakan, tetapi raksasa jujur itu tetap bercerita dengan alasan dia tidak mau berbohong. Gathotkaca menjadi geram lalu ditamparlah pamannya itu hingga tewas. Sebelum meninggal, Kalabendana berpesan tidak akan masuk ke swargaloka, kalau tidak bersama dengan keponakannnya yang sebenarnya sangat disayangi itu. Artinya dia akan menjemput kematian Gathokaca kelak.
    Pada saat perang Bharatayuda, Gathotkaca berperang melawan Adipati Karna, panglima di pihak Kurawa. Senjata Kunta yang diarahkan ke Gathotkaca, tidak sampai ke tubuhnya, karena satria Pringgodani itu terbang tinggi di awan tingkat tujuh. Kemudian senjata ditangkap Kalabendana, yang sejak tadi memperhatikan peperangan itu, lalu mengarahkan Kunta ke pusar Gathotkaca dan tewaslah Gathotkaca. Dalam istilah Jawa disebut ‘Curiga manjing warangka’ = Senjata masuk ke sarungnya. Seperti diketahui bahwa sarung senjata Kunta memang tersimpan rapi di pusar Gathotkaca.

    • Ellang Muda said,

      November 8, 2011 at 2:06 pm

      hebattt…. masss… sya salut dngan pengetahuan anda tntang pewayangan…^_^

      • Sastrowijoyo said,

        Januari 31, 2013 at 7:08 am

        Terima kasih mas Ellang

  17. agung pu said,

    November 27, 2009 at 8:56 am

    Mohon agar dapat ditampilkan wayang kulit Gatotkaca dalam berbagai versi. Terutama versi dari daerah yg jarang tampil, misal versi Banjarmasin, Bali, Lombok, Madura, Betawi, Palembang. Hal ini sekaligus menjaga wayang kulit dari daerah tsb dari resiko kepunahan. Dapat saya tambahkan informasi pula bahwa versi Banyumas ada lagi satu anak Bima yaitu Srenggini.

  18. hanumoto said,

    Desember 9, 2009 at 7:13 am

    gatot kaca merupakan perwatakan yang tegas..

  19. shania tasya berliana said,

    Desember 28, 2009 at 7:54 am

    bagus,tapi kurang menarik/lumayan bagus

  20. wasana abu hakim said,

    Januari 15, 2010 at 3:29 pm

    Maturnuwun, bisa ngerti gathutkaca. ….lebih bagus kalo ditampilkan jg Gathutkaca yang warna dan bentuk yang lain.

  21. satukata said,

    Maret 14, 2010 at 8:22 am

    nice posting bos

    N lam kenal Y

  22. Arka said,

    Maret 14, 2010 at 9:00 am

    maaf (spam, mungkin)
    tolong di kunjungi klo bisa d follow ya
    http://javaneseheroes.blogspot.com/

  23. April 28, 2010 at 6:41 pm

    mks atas artikel ini…
    ap nma lain gatotkaca?

  24. Iskandar said,

    Mei 5, 2010 at 5:36 am

    Antareja
    Ini adalah kakak Gatotkaca namanya Antareja.Dalam versi Surakarta disebut juga Antasena, adalah putra pertama Raden Werkudara dengan istri pertamanya Dewi Nagagini, putri Sanghyang Antaboga, dewa ular. Ketika peristiwa Bale Sigala-gala, yang dibakar habis oleh Kurawa, Pendawa menyelamatkan diri masuk ke terowongan yang ditunjukkan oleh seekor musang putih, jelmaan dewa Antaboga. Sampai di kahyangan Saptapratala, tempat bersemayamnya Bathara Antaboga. Selama tinggal di kahyangan bawah tanah itu, rupanya Bratasena dan Nagagini ‘sir-siran’ (sama-sama naksir). Kemudian kedua sejoli yang sedang dilanda asmara itu dikawinkan, dan dari hasil perkawinan itu, lahirlah Antareja. Pandawa tidak bisa tinggal lama-lama di Saptapratala, dengan terpaksa mereka harus kembali ke janaloka (dunia) dan meninggalkan Nagagini serta bayi Antareja.
    Antareja bertumbuh menjadi ksatria gagah perkasa dan sangat sakti, berkat bimbingan kakeknya. Setelah dewasa, ia ingin bertemu dengan ayahnya, akhirnya dia berangkat ke Amarta. Sebelum sampai di Amarta dia menemukan perahu terapung-apung di sungai Gangga, karena menarik perhatiannya, perahu itu dihampiri. Alangkah terkejutnya ternyata perahu itu berisi seorang perempuan cantik yang sudah tak bernyawa. Dengan kesaktiannya, perempuan itu dihidupkan kembali, karena memang belum saatnya mati. Setelah hidup kembali, perempuan itu bercerita mengaku bernama Sembadra, istri Arjuna, paman Antareja sendiri, karena Arjuna adik Werkudara. Kemudian sebagai ucapan terima kasihnya kepada Antareja, Sembadra sanggup membantu untuk bertemu dengan Werkudara, karena tidak mudah untuk mengaku-ngaku sebagai anak Pandawa.
    Di tengah-tengah asyiknya berbicara, tanpa diketahui dari mana asalnya, Antareja merasa seolah disambar petir. Ternyata yang disangka petir itu, adalah serangan seorang ksatria yang tinggi dan besarnya hampir sama dengannya, bahkan ada kemiripan dengannya.
    Akhirnya Sembadra menengahinya dan menerangkan bahwa yang menyerang Antareja itu adalah Gathotkaca, adiknya sendiri lain ibu. Sedangkan Gathotkaca mengira yang membunuh Sembadra adalah Antareja. Karena ia ditugasi oleh Kresna untuk mengawasi perahu isi jasad Sembadra, supaya dapat diketahui, siapa sebenarnya pembunuh Sembadra. Sembadra yang mempunyai nama Rara Ireng dan Bratajaya itu menerangkan. Sebenarnya yang membunuh bukan Antareja, justru Antareja yang menolongnya. Itulah awal dari pertemuan antara kakak beradik tersebut.
    Dalam perang Bharatayuda, sebenarnya Antareja diplot untuk berhadapan dengan Prabu Baladewa, namun karena penulisannya di kahyangan diganggu Kresna dengan menumpahkan tintanya, maka penulisan skenario itu tidak selesai. Kresna kawatir jika Antareja ikut Bharatayuda, maka perang saudara itu tidak serem dan keluar dari skenarionya. Dengan kesaktiannya Antareja bisa membinasakan musuh-musuhnya, tidak perlu dengan perang, hanya menjilat bekas telapak musuhnya, maka musuh itu akan tewas. Sementara itu Prabu Baladewa, juga tidak ada yang bisa melawan karena memiliki senjata yang sangat ampuh, Nanggala dan Alugara. Sedangkan Bharatayuda dirancang untuk menyingkirkan angkara murka dan perlawanan antara perilaku jahat dengan perilaku baik, yang dimenangkan kebaikan.
    Akhirnya Antareja diminta oleh Batara Guru untuk ditiadakan (dimatikan). Kresna dengan tipu muslihatnya, meminta Antareja untuk menjilat sebuah bekas telapak orang. Ternyata telapak itu adalah milik Antareja sendiri, tewaslah dia. Sementara itu Prabu Baladewa telah diungsikan di pertapaan Grojogan Sewu untuk bertapa hingga hampir Bharatayuda berakhir.

  25. Adri said,

    Agustus 19, 2010 at 7:28 pm

    ngasi,,masukan ya kangmas2 sekalian..

    di versi cerita wayang solo,,Antasena adlh nama lain Antareja..

    tapi klo di versi cerita wayang kulit Yogyakarta,,Raden Antareja adlh putra tertua dari Raden Werkudara,,alias Bima..
    dan Raden Antasena adlh putra bungsu Raden Werkudara..

    satu lagi info yg saya dapat..
    Raden Antasena juga dikisahkan sebagai yg terkuat diantara 3 putra Bima (Antareja,,Gatotkaca,,dan Antasena)..
    kesaktian Raden Antasena hanya bisa disaingi oleh Raden Wisanggeni,,putra Arjuna..

    • bosangjay said,

      September 2, 2010 at 10:15 am

      Ya tapi ini versi surakarta

      • dw said,

        Agustus 14, 2011 at 1:21 am

        Ya mending versi Indianya dunk…ndak bikin simpang siur…hehehe

      • noviita said,

        Maret 1, 2012 at 2:39 pm

        kalo versi semarang ada?

      • bosangjay said,

        Maret 11, 2012 at 9:13 pm

        Nggak ada mas

  26. sugiarto said,

    Agustus 31, 2010 at 7:32 am

    sebelumnya saya minta maaf,mengapa pusar gatot kaca sukar di potong,n apa penyebabnya?

    • satrio said,

      Desember 11, 2010 at 4:52 am

      itu kehendak dewata..,bahwa hanya warangka kuntawijayandanu yg bisa memotong pusar gatotkaca..

  27. jang keun seok said,

    Oktober 14, 2010 at 9:25 am

    gamsahamnida..!

  28. agus said,

    Oktober 19, 2010 at 1:56 am

    mas slm kenal, nuwun sewu badhe copy,awit kulo ngefans sanget kalian ingkang asmo BROTOSENO puniko…matur nuwun sakderengipun…

  29. suli partono said,

    Oktober 31, 2010 at 3:50 am

    salam kenal mas iskandar….
    cocok sekali saya tulisannya sesuai pewayangan di kaset kaset…dari dalang dalang ki nartosabdha,ki mantep,kianom suroto.keluarga bima saya suka akan kesaktiannya.tentang wisogeni juga cocok versi jogja dan surakarta.tapi versi banyumas hal wisogeni saya sama sekali tidak cocok karena karakternya sok pinter.sampai sampai bathara kresna(wisnu) diwulang/diajari.makanya saya walaupun orang gombong lebih suka wayang wetanan(yogyakarta dan surakarta) yang masih sesuai pakem

    • Iskandar said,

      Januari 27, 2011 at 8:54 am

      Yth Mas Suli Partono,
      Matur nuwun sanget kawigatosanipun, salam kenal ugi. Semoga wayang tetap lestari.

  30. insani said,

    November 1, 2010 at 1:31 pm

    kok gatot kaca tidak knal q,padahal q kan seperti dy (keren banget)

  31. akira said,

    November 3, 2010 at 6:26 pm

    walaupun kasian ngiliat gatotkaca waktu bayi d cemplungin k gunung merapi sama bapak nya sendiri s bima dan sangat d sayangkan karena dia tewas d umur yg cukup masih d bilang sangat muda….tapi dia keren banget…sampe ada yg nyaingin dia s superman

  32. Eko SW said,

    November 8, 2010 at 5:30 pm

    makasiih. mas saya paste ya, tapi tenang aja, URL saya letakkan di atas.
    kalau ga berkenan, bs saya hapus setelah itu.
    tq

  33. puspa said,

    Januari 11, 2011 at 1:14 am

    saya prnh membaca sekilas, bahwa gatot kaca waktu masih kecil pernah mengalahkan kala precona adakah ulasan tentang itu…??

    • bosangjay said,

      Februari 3, 2011 at 7:14 pm

      kala precona ? Wah nggak tahu saya

    • tutuko said,

      April 10, 2012 at 6:34 pm

      ada di novel “the darkness of gatotkaca: sebuah novel pahlawan kesunyian” karya Pitoyo Amrih

  34. mee said,

    Januari 23, 2011 at 3:47 pm

    saya nyari cerita gatotkaca tapi yang pakai nahasa jawa,,,,??
    ada gak ?

  35. R. Dwi Hardono said,

    April 23, 2011 at 9:59 am

    nDherek nimbrung njih.. Saya seneng banget kalau lihat bleger Gatotkaca wanda ‘THATHIT”, hmmmm gagahnya lebih gagah daripada Briptu Norman (haha, maaf).
    Yang saya tahu di gagrak (gaya) Surakarta Antareja=Antasena, kemudian punya adik Gatotkaca. Antasena adalah nama mudanya Antarareja (ada yg nyebut Anantareja).
    Kalau gagrak Ngayogyakarta Antareja, Gatotkaca, baru Antasena. Antasena di Yogya tokoh yg populer bahkan jadi ikon. Penampilannya seperti Wrekudara tapi lebih kecil, muka mendongak, tdk bisa bahasa Jawa halus (krama) seperti bapaknya, penampilan cuek, slengek’an, mbambung, tapi tulus hatinya dan sakti mandraguna. Saking saktinya tokoh ini nggak boleh ikut perang Bharatayuda (demikian juga Wisangeni).
    Tapi di Surakarta-pun sekarang tokoh Antasena sudah dihadirkan sebagai tokoh tersendiri utk semakin meramaikan jagat pakeliran. Wandanya beda jauh dengan gaya Ngayoyakarta. Tetapi juga ada dhalang yg menampilkan tokohnya mirip Antasena gaya Ngagyoyakarta.
    So, kita semakin melengkapi satu sama lain, supaya wayang kita lebih MERIAH..dgn demikain negeri tetangga ndak berani lagi ‘ngepek’ budaya kita, hehe

  36. sutedjo said,

    Mei 20, 2011 at 7:08 am

    matur nuwun

  37. Maridi said,

    Juni 8, 2011 at 4:04 am

    gatotkoco iku idolaku mas …. yen perang ojo sampe dikalahke …. aku melu nangis … cengeng

  38. vickywidhya said,

    Juni 10, 2011 at 7:24 am

    wahhhh nggarai pengen nonton wayang

  39. terinita said,

    Juni 28, 2011 at 4:54 am

    hmm…aku juga lagi nyari buku pewayangan….mahabrata, or sejeisnya!??!?! kira2 buku pewayangan judulnya apa ajah yah? klo yg ramayana saya sudah punya

  40. arin said,

    Juli 17, 2011 at 4:26 pm

    wah berarti werkudoro ber besanan dg R. arjuna ya?

  41. widi anake ramane.. said,

    Agustus 4, 2011 at 1:13 pm

    semua saya suka….ta saya paling suka gagrak banyumas….

  42. poetri said,

    Oktober 9, 2011 at 12:08 pm

    Panyundrane gatotkaca apa??

  43. Ellang Muda said,

    November 8, 2011 at 2:08 pm

    ada yg mo sya tanyakan ni mas basongjay…
    klo d india ada ga pementasab wayang..??? soalnya saya blom prnah liat d film india….

  44. frisant said,

    Februari 27, 2012 at 2:45 am

    Gatotkaca adalah contoh bagi kita semua bahwasanya orang tidak boleh di sanjung setinggi langit karena pasti ada kelemahanya .apa yang kurang dari gatotkaca otot kawat tulang besi kulit tembaga,jari gunting,lengan pedang,sikut pethel,telapak kaki bel lutut gada,gares parang,bisa terbang,punya aji narantaka,aji brajadenta&brajamusti di telapak tangan tapi apa yang terjadi begitu maju perang dalam baratayuda tidak bisa berbuat apa,mati dan tidak bisa membunuh satu musuhpun.yah seperti itulah apabila manusia jika dipuja melebihi kapasitasnya..gatotkaca adalah manusia biasa dana sayangnya kita tetap seperti itu menyanjung idola kita dan cenderung mengkultuskanya

    • berusaha jadi orang bijak said,

      April 10, 2012 at 6:48 pm

      Tuhan memberikan manusia akal pikiran untuk mengolah dunia dan berkarya, orang yg berTuhan tidak dengan mudah meremehkan karya orang lain. manusia dapat merasakan dan menikmati karya sebagai kisah kebijakan yang datang dari Tuhan melalui penulis karya cerita. bukan berarti menyanjung, tetapi menghargai suatu kebaikan yang ingin disampaikan penulis melalui sebuah cerita… sebenernya dalam kisah pewayangan juga meberikan gambaran bahwa setiap manusia punya jalannya masing-masing, namun dalam pewayangan garis kehidupan ditulis oleh dewa.

  45. April 4, 2012 at 11:41 am

    Wahh,ceritanya bagus

  46. Juni 5, 2012 at 1:20 pm

    Mas ingkang tak hormati,,
    mau nanya nihh, iingkang sebenere khhidupan wayang ikuu pernah ana aoa ora ??
    atau hanya sekedar karangan dalang yg ngegambarin khidupan manusia…??

  47. adis said,

    Juni 15, 2012 at 11:48 am

    okehhhhhh

  48. waruju said,

    Juni 26, 2012 at 5:23 pm

    sekedar menambahkan…

    versi surakarta
    antareja = antasena, shg antasena bs jadi anak tertua bima.

    versi yogyakarta
    antareja, gatotkaca dan antasena.
    benar kesaktian antasena adalah sulit dicari tandingan kecuali oleh wisanggeni, namun keduanya berbeda karakter meski sama-sama tidak bisa basa (ngoko).

    Namun pada perjalanannya versi yogyakarta-lah yang diambil, hal ini terbukti dalam pagelaran wayang jaman modern oleh dalang manapun antareja dan antasena adalah dua orang yang berbeda (kakak beradik-dari ibu yang berbeda). nuwun

  49. nalentin said,

    November 9, 2012 at 5:47 am

    keren jugha crita nxa

  50. junaidi said,

    November 24, 2012 at 10:28 am

    tolong diartikan dalam bahasa jawa napa???? crita wayang masa bahasa Indonesia kan menyimpang

  51. Januari 8, 2013 at 12:25 pm

    apa nama mahkota yang dipakai raden gatot kaca?

  52. Godswar said,

    Januari 28, 2013 at 1:06 pm

    ajarin Buat BLOG donk,,,, aku mau otak-atik internet biar menghasilkan duit bnyak. Ajarin tulis diFBku y, ini Emailnya: umam.gwo10ymail.com

  53. gatot said,

    April 9, 2013 at 4:52 am

    bukanya gatutkaca itu putra bimasena???

  54. Ferry said,

    September 1, 2013 at 4:25 pm

    Gatutkoco lak anak’e bima..kok anak’e werkudara..seng bnr sng endhi..pk.dhe..

  55. September 16, 2013 at 1:14 pm

    matur suwun… critanipun skti mandraguna.. haha.. :D

  56. mulia said,

    September 27, 2013 at 12:11 pm

    makasih ya,,tgas qw dah slesai akhir.a

  57. Ahmad said,

    Februari 21, 2014 at 11:07 pm

    Yang benar antareja anak pertama,gtotkaca yang kedua,trus yg trakir antasena


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: