Siasat perang ini diibaratkan seperti bentuk bulan sabit, dimana seolah-olah wujudnya tidak membahayakan. Tetapi sesungguhnya siasat ini membahayakan karena di ujung sudut dan di tengah barisan selalu siap sedia dengan gerakan yang mudah dilakukan.
Selain dari siasat perang yang digambarkan ini, masih ada pula siasat lain-lainnya, seperti :
- Jaladri pasang, yaitu samudera yang sedang pasang airnya, dimana gerak-gerik pasukan diibaratkan air laut pasang yang mematikan.
- Emprit neba, ialah burung emprit yang datang menyerbu serentak di sawah. Oleh karena burung-burung menyerbu dalam jumlah banyak, maka rusaklah tanaman padi yang diibaratkan sebagai musuh.
Ada peribahasa Jawa yang berbunyi: Kinepung wakuI binaya mangap, yang artinja dikelilingi seperti pertemuan bingkai bakul dan seperti bertemu dengan buaya ternganga mulutnya. Berarti bahaya yang tak dapat dihindari.
Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.




sugiarno berkata,
April 2, 2009 pada 1:08 pm
Siasat ini paling pas untuk menghadapi dominasi “asing”, begitu kira-kira … Salam.
ratnadw berkata,
Mei 15, 2009 pada 3:09 am
Wulan Tumanggal??? wah cocok banget sama namaku hueheheheheehee….
max berkata,
Agustus 23, 2009 pada 9:43 am
kurang paham gituloh maksud siasat perang iye….
purwantara berkata,
Agustus 31, 2009 pada 3:23 pm
Gelar prang yg ada dikasanah dunia pewayangan tersebut masi bisa di tambah dengan Garudho Nglayang,Dirodho Metho dan Sapit urang.tapi pada konteksnya peperangan tersebut masih bersifat infantri,yakni langsung saling berhadapan.
Jaka berkata,
September 3, 2009 pada 10:06 am
Mau beragama kpd Tuhan ato mau perang seh.
dewo max berkata,
November 14, 2009 pada 8:46 am
ini namanya strategi bung