SIASAT PERANG GARUDA NGLAYANG

Siasat Perang Garuda Nglayang

Siasat Perang Garuda Nglayang

Siasat perang Garuda Nglayang ini meniru gerakan burung garuda, dimana panglima dan pemimpin pasukan berada di paruh, kepala, sayap, dll. dan memberikan perintah kepada anak buahnya dengan siasat seperti tingkah burung garuda yang menyambar atau mematuk, dsb.
Siasat perang ini digunakan oleh pihak Pandawa pada perang Baratayudha. Arjuna sebagai patuk, Prabu Drupada berada di kepala, Prabu Kresna sekereta dengan Arjuna, Drustajumna di sayap kanan, dan Bima memimpin di sayap kiri, Setyaki sebagai ekor, dan para raja berada di tengkuk dipimpin oleh Prabu Yudistira.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

RARA IRENG

Dewi Rara Ireng Wara Sumbadra

Dewi Rara Ireng Wara Sumbadra

Rara Ireng adalah puteri Prabu Basudewa, seorang puteri titisan Dewi Sri, dewa perempuan imbangan Hyang Wisnu. Sesudah dewasa Rara Ireng bernama Dewi Wara Sumbadra, yang terhitung bangsa bidadari, hingga ada kata perhitungan bahasa Jawa: Seketi (sepuluh laksa) kurang sawiji (kurang satu), yang merupakan perhitungan jumlah bidadari di Kahyangan, satu kekurangan itu menjadi lengkap dengan adanya Sumbadra, jadi benarlah Sumbadrasebangsa bidadari. Ia bersuamikan Raden Arjuna, dan berputera seorang laki-laki bernama Raden Angkawijaya. Inilah keturunan Pandawa yang tak berkeputusan memancarkan laki-laki.

Menurut riwayat, Rara Ireng seorang yang aneh. Waktu ia masih kanak-kanak rupanya jelek, berkulit hitam dan berambut jarang kemerah-merahan, karena itulah ia bernama Rara Ireng yang berarti hitam. Tetapi segala kejelekannya itu berangsur-angsur berubah, sehingga Rara Ireng akhirnya menjelma menjadi seorang putri yang secantik-cantiknya. Dalam cerita, Rara Ireng dikatakan tidak begitu cantik, tetapi ketika ia berkumpul dengan putri-putri yang tersohor cantiknya, Rara Ireng lah yang terlihat paling cantik.

Rara Ireng seorang putri yang sangat sabar, kalau datang marahnya ia hanya menampakan senyuman yang manis. Setelah bersuami ia selalu rukun dan damai sehingga dimisalkan sebagai ikan mimi dan mintuna, yaitu dua ekor ikan laut (jantan dan betina) yang tak pernah berpisah. Tetapi pada suatu masa timbul juga marah yang sebenarnya karena kesalahan Arjuna. Perkataan Dewi Wara Sumbadra ketika itu meskipun halus terasa juga oleh Arjuna sebagai halilintar menyambar.

Baca entri selengkapnya »

BUTO TERONG

Buto Terong

Buto Terong

Buto berarti raksasa, dan terong adalah buah tanaman terung. Disebut Buto Terong karena hidungnya yang seperti terong. Raksasa ini dikenal orang, sebagai raksasa perusak keamanan, sebenarnya ia merusak bukan karena kebuasannya, melainkan karena ia kuat makan dan tidak pernah merasa puas dengan makanannya. Hakikatnya orang yang tamak, tak ada rasa puasnya. Suara raksasa ini sengau (bindeng).

BENTUK WAYANG

Buta Terong bermata juling, hidung bentuk buah terung. Bergigi dan bertaring, bahu tinggi sebelah. Rambut terhias, bersunting sekar kluwih dengan terhias pula. Berkalung ulur-ulur lebih nyata. Bergelang, berkeris gayaman. Kain rapekan.

Raksasa ini juga digunakan untuk mengingat tahun pembuatannya dengan kata: buta lima mangsa janma = 1655

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

Proyek Wayang Flash Versi Terbaru

Setelah kerja keras selama dua minggu untuk menembel kanan kiri dan menambah atas bawah akhirnya proyek wayang flash terbaru siap untuk ditampilkan. Untuk sementara proyek wayang flash ini akan berhenti sementara dulu karena saya akan beralih untuk mengerjakan proyek proyek flash lain (refreshing euy).

Di versi ini, beberapa fungsi baru ditambahkan, seperti pada bagian bawah para dalang bisa memilih wayang dengan mengklik kanan kiri dan yang paling penting beberapa tokoh wayang lain kali ini bisa dimainkan untuk menemani wayang Bagong.

Berikut adalah beberapa screenshot dari wayang flash :

Dan silahkan untuk melihat gambar-gambar lain :

Untuk mencoba sendiri silahkan di unduh atau dilihat secara online di tautan berikut ini :

http://www.zshare.net/flash/166345856844ea36/

Silahkan tulis kritik dan saran anda di kolom komentar berikut, terima kasih ….

ADIPATI KARNA

Adipati Karna
Adipati Karna

Adipati Karna adalah putra dari Dewi Kunti, yaitu putri Prabu Kuntiboja di Madura. Waktu muda ia bernama Suryaputra. Waktu Dewi Kunti belum bersuami ia telah hamil karena mempunyai ilmu dari Begawan Druwasa, dan ilmu itu tidak boleh diucapkan dalam sinar matahari (siang hari). Jika diucapkan dalam sinar matahari ia akan jadi. hamil. Tetapi Dewi. Kunti lupa akan larangan itu, maka hamillah ia. Oleh pertolongan Begawan Druwasa, kandungan itu dapat dilahirkan keluar dari lubang kuping, maka diberi anak itu diberi nama Karna (karna berarti kuping).Karna diaku anak angkat oleh Hyang Surya. Waktu Karna dilahirkan lalu dibuang ia ditemukan oleh Prabu Radea, raja di Petapralaya, terus diaku anak dan diberi nama Radeaputra.

Setelah dewasa, ia berkenalan dengan seorang puteri di Mandraka bernama Dewi Surtikanti. Perkenalan itu diketahui oleh Raden Pamade, hingga terjadi perang tanding. Karna mendapat luka di pelipis dan akan dibunuh oleh Pamade. Tetapi Hyang Narada, turun dari Kahyangan untuk mencegah kehendak Pamade itu dan Narada menerangkan, bahwa Kama itu saudara Pamade (Pandawa) yang tertua, malah seharusnya Pamade membantu perkawinan Karna dengan Surtikanti. Dan seketika itu juga Hyang Narada menghadiahkan mahkota. pada Karna untuk menutup luka di pelipisnya.

Pamade dan Karna pergi ke Awangga dan membunuh raja raksasa di Awangga bernama Prabu Kalakarna, yang, mencuri Dewi Surtikanti. Kemudian Surtikanti dihadiahkan kepada Karna untuk jadi isterinya dan Karna bertahta sebagai raja di Awangga berpangkat Adipati, suatu pangkat yang hampir setara raja, dan bergelar Adipati Awangga.

Karna kesatria sakti dan mempunyai senjata bernama Kunta Wijayadanu.

Dalam perang Baratayudha, Karna berperang dengan Arjuna, saudara sendiri, hingga Karna mati dalam perang sebagai kesatria. Tewasnya Adipati Karna dalam perang Baratayuda dianggap utama karena ia mati dalam perang untuk membela negeri Hastinapura, setia hingga mati, tak memandang bermusuhan dengan saudara sendiri.

Teladan keutamaan Adipati Kama ini dikarang oleh KGPAA Mangkunegara IV untuk pengajaran pada kerabat dan tentara Mangkunegaran, tetapi umumnya juga diikuti oleh khalayak. Buku tersebut berjudul Tripama.

BENTUK WAYANG

Adipati Karna bermata jaitan, hidung mancung. muka mendongak. Bermahkota bentuk topong, berjamang tiga susun dengan geruda membelakang, bersunting sekar kluwih. Berpraba, bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain bokongan raton. Karna berwanda:

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

« Older entries