Teater Bayangan a la China

Kebetulan berkunjung ke sebuah musium pada hari ini, saya melihat teater bayangan dari negara China. Berbeda dengan wayang kulit dari Indonesia, teater bayangan ini selalu dimainkan dari balik layar yang tipis dan transparan. Sehingga para penonton dapat melihat warna dari wayang china tersebut (istilah yang saya gunakan untuk membedakan dengan wayang dari Indonesia). Selain itu, wayang china memiliki tingkat kebebasan yang lebih tinggi dari wayang Indonesia, apabila wayang kulit Indonesia biasanya hanya terbatas pada gerakan tangan, wayang china mampu untuk menggerakan kakinya, seperti untuk berjalan dan untuk duduk.

Dari segi permainan wayang china tampaknya banyak mengandalkan mekanik wayang seperti pemberian efek-efek bayangan, kemudian dekorasi yang bervariasi seperti penggunaan mebel sedangakan para dalang Indonesia lebih mengandalkan keahlian tangannya dalam memainkan wayang seperti saat berperang.

Setelah penasaran dengan yang saya lihat di museum, saya pun iseng iseng untuk mencari informasi lebih jauh melalui internet. Dan saya dapatkan cukup mengagumkan, salah satunya
adalah yang berikut ini :

Bagaimana cukup menarikan ?

Iklan

Galeri Wayang Lain-Lain

Wayang-wayang ini digunakan untuk menampilkan peran-peran umum. Berikut koleksinya :

RADEN NAKULA DAN SADEWA

Raden Nakula dan Sadewa

Raden Nakula dan Sadewa

Kedua kesatria ini adalah saudara kembar, putera Pandu dari permaisuri Dewi Madrim, saudara Prabu Salya, raja Madraka. Nakula dan Sadewa waktu kanak-kanak bernama Pinten dan Tangsen. Mereka inilah dua saudara Pandawa yang terakhir. Kesetiaan keduanya kepada ketiga saudaranya yang lain tiada pernah berubah. Kelimanya berpendirian yang sama, merupakan suatu kesatuan.
Waktu perang Baratayudha hampir berkobar, Pandawa merasa takut bermusuhan dengan Prabu Salya yang sakti dan sabar itu. Tetapi oleh kebijaksanaan Sri Kresna, Nakula dan Sadewa diutus menghadap Prabu Salya untuk meredakan nafsu marahnya. Karena itu, Salya tak sampai hati bermusuhan dengan Pandawa, sebab mengingat Nakula. dan Sadewa anak kemenakannya. Maka sewaktu perang Baratayudha pecah, Prabu Salya berperang tanpa semangat.

BENTUK WAYANG

Nakula dan Sadewa bermata jaitan, hidung mancung, sanggul kadalmenek, bersunting sekar kluwih panyang. Berkalung ulur-ulur. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain bokongan putran. Nakula dan Sadewa berwanda: Banjet dan Bentit.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.