RARA IRENG

Dewi Rara Ireng Wara Sumbadra

Dewi Rara Ireng Wara Sumbadra

Rara Ireng adalah puteri Prabu Basudewa, seorang puteri titisan Dewi Sri, dewa perempuan imbangan Hyang Wisnu. Sesudah dewasa Rara Ireng bernama Dewi Wara Sumbadra, yang terhitung bangsa bidadari, hingga ada kata perhitungan bahasa Jawa: Seketi (sepuluh laksa) kurang sawiji (kurang satu), yang merupakan perhitungan jumlah bidadari di Kahyangan, satu kekurangan itu menjadi lengkap dengan adanya Sumbadra, jadi benarlah Sumbadrasebangsa bidadari. Ia bersuamikan Raden Arjuna, dan berputera seorang laki-laki bernama Raden Angkawijaya. Inilah keturunan Pandawa yang tak berkeputusan memancarkan laki-laki.

Menurut riwayat, Rara Ireng seorang yang aneh. Waktu ia masih kanak-kanak rupanya jelek, berkulit hitam dan berambut jarang kemerah-merahan, karena itulah ia bernama Rara Ireng yang berarti hitam. Tetapi segala kejelekannya itu berangsur-angsur berubah, sehingga Rara Ireng akhirnya menjelma menjadi seorang putri yang secantik-cantiknya. Dalam cerita, Rara Ireng dikatakan tidak begitu cantik, tetapi ketika ia berkumpul dengan putri-putri yang tersohor cantiknya, Rara Ireng lah yang terlihat paling cantik.

Rara Ireng seorang putri yang sangat sabar, kalau datang marahnya ia hanya menampakan senyuman yang manis. Setelah bersuami ia selalu rukun dan damai sehingga dimisalkan sebagai ikan mimi dan mintuna, yaitu dua ekor ikan laut (jantan dan betina) yang tak pernah berpisah. Tetapi pada suatu masa timbul juga marah yang sebenarnya karena kesalahan Arjuna. Perkataan Dewi Wara Sumbadra ketika itu meskipun halus terasa juga oleh Arjuna sebagai halilintar menyambar.

Semasa Prabu Basudewa masih hidup, Rara Ireng pernah dipangku oleh baginda di pangkuan sebelah kiri, dan Raden Pamade di pangkuan sebelah kanan. Prabu Basudewa bersabda: Rara Ireng yangan bersuami selain dengan Pamade, pun Pamade yangan beristri selain Rara Ireng. Sabda ini disaksikan oleh para dewa dengan teriring tanda-tanda yang gaib. Tersebut dalam cerita, mula-mula Raden Burisrawa melihat Rara Ireng pada waktu Raden Kakrasana (Prabu Baladewa) beristrikan dengan Dewi Erawati, Rara, Ireng dibawa kakandanya sebagai pengiring mempelai (Jawa: patah). Setelah Burisrawa melihat Rara Ireng, ia tergila-gila (Jawa: kedanan), dan Burisrawa bersumpah tidak akan kawin selain dengan Rara Ireng.
Pada lakon Sumbadra larung, di tengah malam Dewi Wara Sumbadra akan mandi, di tengah jalan dihadang oleh Burisrawa, ia sangat gembira dan mendekati Wara Sumbadra, tetapi Wara Sumbadra tetap tak berubah sikapnya, tak mau didekati. Tingkah Wara Sumbadra ini amat menjengkelkan hati Burisrawa, lalu ia menarik keris hanya untuk menakut-nakuti saja, tetapi setelah Wara Sumbadra melihat tangan. Burisrawa memegang keris terhunus lalu diterkam keris itu, matilah Wara Sumbadra seketika itu juga. Dari pertimbangan Sri Kresna, mayat Wara Sumbadra supaya dilarung dalam perahu di bengawan Silugangga.
Tersebutlah Raden Antareja, putera Wrekudara, keluar dari bawah bumi akan menghadap ramandanya, menemui mayat Wara Sumbadra dan dapat menghidupkan kembali. Setelah Dewi Wara Sumbadra mengetahui sejarah Antareja, sangat bersukacita, lantaran anak kemenakan sendiri, dan Antareja lalu menjaga puteri itu. Tetapi setelah Gatotkaca yang menjaga dari jauh mengetahui seorang laki-laki berdekatan dengan Dewi Wara Sumbadra ia sangat murka, dikirakan bahwa Antareja bukan kerabatnya, jadi peranglah kedua kesatria itu. Kemudian diterangkanlah oleh Wara Sumbadra, bahwa kedua kesatria itu bersaudara. Rukunlah kedua kesatria itu dan mengiring Dewi Sumbadra kembali pulang ke negeri Madukara, negeri Arjuna.

BENTUK WAYANG

Rara Ireng (Sumbadra) bermata jaitan, hidung mancung, muka tenang. Bersanggul keling dan sebagian rambut terurai, berjamang dan bersunting waderan. Bergelang dan berpontoh. Tetapi setelah dewasa hanya berjamang dan tak bergelang dan lain-lain. Sumbadra berwanda : 1. Lentreng, 2. Patrem dan 3 Rangkung. Wanda yang ketiga ini karangan Sri Sultan Agung.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

1 Komentar

  1. kartika said,

    Maret 19, 2010 pada 2:13 am

    coba deh baca arjuna krama…
    bagus..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: