Proyek Selanjutnya ? Wayang Golek

Setelah cukup sukses dalam menampilkan tokoh tokoh wayang kulit, kayaknya tidak salah kalau blog wayangku juga turut menampilkan wayang golek. Wayang yang berasal dari tanah Sunda ini merupakan representasi 3D dari wayang tidak kalah menariknya dengan wayang kulit, ia memiliki keunikan tersendiri dalam bentuk muka, bentuk badan, bentuk pakaian, bentuk topi dan lain sebagainya. Berikut adalah foto-foto awal dari koleksi wayang golek.

Wayang golek 1

Bima versi wayang golek

Baca entri selengkapnya »

DADUNGAWUK

Dadungawuk

Dadungawuk

Dadungawuk adalah seorang raksasa penggembala kerbau Andanu, yaitu kerbau milik Betari Durga. (Kerbau Andanu berkaki putih di ujung kakinya). Penjaga ini selalu menjaga kerbau-kerbau tersebut di hutan Krendawahana. Pada waktu Arjuna hendak kawin, kerbau-kerbau ini dipinjam oleh Wrekudara sebagai pinangan Arjuna. Mula-mula Dadungawuk tak meluluskan permintaan tersebut. Namun, setelah ia dikalahkan oleh Wrekudara, maka ia pun akhirnya menyerahkan kerbau-kerbau itu dan mengikuti sebagai penggembalanya.

BENTUK WAYANG

Dadungawuk bermata kelipan, hidung bentuk haluan perahu, mulut terbuka, bergigi dan bertaring serta berkalung ulur-ulur. Tangan memegang cambuk, dan menggembala kerbau andanu, yaitu kerbau liar di hutan.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

DEWI KAMARATIH

Dewi Kamaratih

Dewi Kamaratih

Dewi Kamaratih puteri Sang Hyang Resi Soma. la seorang bidadari ia tetap tinggal di Keendran. Bidadari ini tak pernah berpisah dengan Hyang Kamajaya, ialah suami Dewi Ratih. Hidup rukun Hyang Kamajaja dan Dewi Ratih, jadi lambang kehidupan suami isteri yang rukun dan setia keduanya. dewa dan dewi ini selalu menjaga keamanan umat manusia yang suami isteri.
Dewi ini sangat keletah (kenes), lebih-lebih pula semasa bertemu dengan Arjuna. Menurut macam gambar wayang ini, terlihatlah bahwa Dewi ini seorang yang tangkas tertilik dari muka mendongak dan bertolak pinggang itu.

BENTUK WAYANG

Dewi Kamaratih bermata jaitan, hidung mancung, muka mendongak, rambut terurai udal (terlepas). Berjamang dengan garuda membelakang’besar, bersunting waderan panjang. Berkalung ulur-ulur. Bergelang dan berpontoh. Kain dodot putren. Bersepatu. Bersuara dencing.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

Anggada

Anggada

Anggada

Anggada adalah salah seorang senapati tentara wanara negara Kiskenda dalam pemerintahan Prabu Sugriwa. Ayahnya adalah Resi Subali, ibunya bernama Dewi Tara, putri Batara Indra. Subali dan Sugriwa, atas perintah dewa, telah menang dalam perang melawan Prabu Maesasura, dengan seluruh balatentaranya.

Sesudah peristiwa Kiskenda, Sugriwa dikawinkan dengan Dewi Tara dan dinobatkan menjadi raja. Kerajaan Kiskenda dihadiahkan kepadanya. Atas hasut-fitnah Prabu Dasamuka, negara Kiskenda diserang Subali, yang merasa bahwa kemenangan atas Kiskenda, Subali-lah yang melakukannya. Prabu Sugriwa dengan tentaranya terpaksa meninggalkan negaranya. Subali akhirnya menduduki Kiskenda dan memperistri Dewi Tara. Dalam perkawinan ini lahirlah wanara Anggada.

Sugriwa dapat kembali menduduki Kiskenda setelah Subali dapat dibinasakan oleh Sri Rama. Anggada tetap mengikuti ibunya, Dewi Tara, yang kembali menjadi istri Sugriwa.

Dalam lakon “Hanoman Duta”, Anggada sangat iri hati atas pengangkatan Hanoman, saudara sepupunya, sebagai duta ke Alengka untuk menyelidiki tempat disembunyikannya Dewi Sinta, istri Rama. Di dalam lakon “Anggada Balik”, ia diutus Sri Rama untuk mengukur kekuatan bala tentara Alengka. Karena hasutan Rahwana, yang mengatakan bahwa pembunuh ayahnya adalah Sri Rama, Anggada kemudian mengamuk dan berbalik akan membunuh Rama. Tetapi Hanoman kemudian dapat menaklukkan dan menginsyafkan serta menyadarkannya.

Akhirnya Anggada kembali menyerang Alengka dan berhasil membawa mahkota Prabu Dasamuka dan dipersembahkan kepada Sri Rama. Dalam perang besar Alengka, Anggada menunjukkan kepahlawanannya di medan perang, ia berhadapan langsung dengan putra mahkota Alengka, Indrajit, putra Dewi Tari, saudara sepupunya. Atas jasanya ia mendapat tambahan nama “Jaya” yang berarti unggul, maka dari itu ia lazim disebut Jaya Anggada. Seperti wanara yang lain, Anggada tidak dapat diketahui akhir hidupnya.

Hanila

Hanila
Hanila

Berwujud wanara/kera berbulu biru tua. Kalau berjalan cepat seperti angin. Ia adalah senapati balatentara Prabu Sugriwa; ciptaan Sanghyang Narada, sehingga bentuknya kerdil pendek mirip dengan penciptanya. Ia diangkat menjadi patih Kiskenda. Dalam perang Alengka ia bertanding melawan Patih Prahasta; dengan bersenjatakan tugu penjelmaan Dewi Indradi, Prahasta hancur dan binasa. Dewi Indradi kemudian lepas dari kutukan Resi Gotama, suaminya, dan kembali menjadi bidadari.

« Older entries