RADEN DURSASANA

Raden Dursasana

Raden Dursasana

Raden Dursasana putera Prabu Destarastra yang ke dua di Hastinapura, seorang Kurawa kesatria yang tinggal di kesatrian Banjarjungut, karena itu ia disebut juga kesatria Banjarjungut. Dursasana sangat disayangi oleh rama ibu dan saudara tuanya, Sri Duryudana. Apa yang diperbuatnya tidak dilarang dan selalu dibiarkan saja. la suka dipuji dan bertabiat sesuka-sukanya. Tidak ada seorangpun yang kuasa melarangnya. Perkataan Dursasana kasar diikuti dengan tertawa dan ia tak pernah tenang. Pada waktu berjalan melenggang-lenggang panyang, pun waktu duduk ia berbuat begitu juga, suatu adat yang ganjil sekali.
Dursasana diangkat sebagai panglima negeri Hastinapura, akan bertanding dengan Wrekudara nanti pada perang Baratayudha. Dalam perang Baratayudha, benar-benar ia berhadapan dengan Wrekudara, yang kemudian ia tewas oleh Wrekudara.
Pada lakon Arjuna papa, yaitu ketika Arjuna mendapat sengsara, para Kurawa merasa dapat membalas sakit hati pada kerabat Pandawa. Arjuna dapat ditangkap oleh Kurawa dan disiksa. Waktu Arjuna tersiksa itu, Raden Dursasana sebagai ketua para Kurawa sangat gembira melihat tingkah laku para Kurawa menyiksa Arjuna itu. Demikian pula dalam lakon Balesigalagala, Kurawa merasa dapat mengenyahkan kerabat Pandawa dari muka bumi, terbukti pada Pandawa itu waktu mabuk dalam perayaan, dibakarlah rumah tempat perayaan itu oleh Kurawa, hingga dikiranya punahlah kerabat Pandawa. Tetapi oleh pertolongan Dewa Bumi, Hyang Antaboga, kerabat Pandawa itu ditunjukkan jalan ke Saptapretala oleh seekor garangan (musang) putih. Kejadian ini justru menambah kemuliaan kerabat Pandawa. Setelah Kurawa mengetahui pula bahwa Pandawa masih hidup, para Kurawa tak putus daya upayanya untuk memusnahkan Pandawa.


Dalam lakon Alap-alapan Ulupi (Lakon alap-alapan berarti perjodohan seorang kesatria), berkisah tentang perkawinan Dewi Ulupi, puteri Begawan Kanwa di Jasarata dengan Arjuna. Ternyata negeri Hastinapura juga meminta puteri itu untuk dikawinkan dengan Raden Dursasana. Tetapi lantaran puteri itu telah kawin dengan Arjuna, marahlah pihak Hastinapura.

BENTUK WAYANG

Dursasana bermata telengan putih, hidung dempak, mulut gusen. Berbadan tinggi besar. Oleh anggapan Kurawa, Raden Dursasana itu menjadi imbangan Wrekudara dari Pandawa. Dursasana bermahkota bentuk topong, berjamang dengan garuda membelakang, bersunting sekar kluwih. Berkalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkain kerajaan lengkap.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

4 Komentar

  1. eckobruzz said,

    September 30, 2011 pada 6:16 am

    yg pake bahasa jawa donk…………………

  2. siwonest said,

    November 1, 2011 pada 10:52 am

    buat tugas kesda~

  3. April 2, 2012 pada 2:51 pm

    Raden Dursasana R wani Gelot


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: