RADEN RAJAMALA

Raden Rajamala

Raden Rajamala

Raden Rajamala, anak Begawan Palasara dengan Dewi Watari. Raden Rajamala adalah kesatria di Wirata jaman Prabu Matswapati. Ia seorang yang sakti tak terlawan oleh siapapun juga. Tetapi oleh karena ia ingin melawan Jagalabilawa yaitu Bratasena, seorang Pandawa yang menyaru dengan nama itu, maka Rajamala membuka gelanggang untuk mengadu kesaktian dan dia sendiri akan maju sebagai jagonya. Jagalabilawa datanglah di gelanggang melawan Rajamala, tetapi Jagalabilawa tak sanggup mengalahkan Rajamala, karena, Rajamala mempunyai sebuah kolam keramat yang berasal jadi dari ibunya. Bilamana Rajamala tewas, ia dimandikan di air kolam itu hiduplah ia kembali. Kemudian rahasia itu diketahui oleh Pandawa, lalu Arjuna memasukkan anak panah wasiatnya ke dalam kolam itu. Ketika Rajamala mati, dimasukkan oranglah ia ke dalam kolam, maka hancur luluh badan Rajamala itu.

BENTUK WAYANG

Rajamala bermata plelengan, hidung nyentang (mendongak) serupa haluan perahu, mulut mrenges (mringis lebih besar). Rambut terurai gimbal, berjamang dengan garuda membelakang, bersunting rajamala. Sunting yang serupa ini lantas jadi nama pokok, dimana bentuk sunting yang serupa itu, disebut sunting : rajamala, dengan sekar kluwih. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkeris hulu gana (serupa kepala orang). Kain bentuk rapekan. Berkalung bulan sabit tiga susun.

NAMA RAJAMALA

Nama Rajamala ini untuk negeri Surakarta. (Sala) jadi nama suatu perahu kerajaan, kendaraan Sri Susuhunan pada waktu banjir, untuk memeriksa seluruh tempat yang digenangi air. Perahu itu dinamakan Rajamala, diambil dari nama wayang Rajamala, anak Begawan Palasara dengan Watari, digambarkan berupa kepala wayang Rajamala di haluan perahu, tetap tinggal dalam sungai Bengawan Sala di Langenarja. Tetapi di masa air Bengawan meluap di musim hujan, perahu baru dapat digayuh ke dalam kota untuk memeriksa kesengsaraan orang-orang yang rumahnya terendam air, dan memberi makan nasi dan lauk pauknya yang dibungkus dengan daun. Tetapi kebanyakan orang, lantaran kebiasaan tiap-tiap tahun rumahnya terendam air banjir, sebelum datang banjir orang-orang bersedia periuk pemasak nasi, air dan ikan bandang cuwik (diasin), untuk makan selama banjir. Pada masa itu (dahulu) ada adat yang aneh, ialah pada waktu banjir itu, banyak orang bersuka-suka raja dengan naik perahu (J. praon) dengan memalu gamelan sebagai kesenangan.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

1 Komentar

  1. Ali Sugito said,

    November 14, 2010 pada 6:00 am

    Rajamala, wayang setia terhadap keluarga…. walau ia harus mati. Right or wrong is my brother Kicaka Rupakeca


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: