PRABU BOMANARAKASURA

Bomanarakasura adalah putera Prabu Kresna dengan Dewi Pertiwi, ia sangat sakti. Dimanapun ia mati, bila tubuhnya tersentuh pada bumi ia dapat hidup kembali, hinega ia tak dapat dikalahkan. Dan juga ia bermusuhan dengan orang-orang Pandawa, pernah suatu ketika ia membunuh Raden Arjuna.
Kematian Arjuna ini, membuat murka Prabu Kresna, karena Prabu Kresna merasa berat kepada Pandawa: Maka Prabu Kresna mengatakan membunuh Prabu Boma. tetapi karena kesaktian. Prabu Boma itu, tak dapat dikalahkannya.
Maka teringatlah Prabu Kresna, bahwa adalah kematian Prabu Boma itu dirahasiakan oleh ibu Boma, Dewi Pertiwi. Prabu mendapatkan Dewi Pertiwi di Saptaputala, menanyakan pada Dewi Pertiwi rahasia tersebut.
Dewi Pertiwi tak keberatan menjawab pertanyaan Prabu Kresna itu, sebab yang bertanya itu ramanda Prabu Boma sendiri. Sepeninggal Prabu Kresna, Dewi Pertiwi merasa menyesal telah membuka rahasia kematian puteranya itu.
Benar, lantaran Prabu Kresna membela pihak Pandawa, yang Pandawa itu terhitung juga musuh Boma, maka berangkatlah Prabu Kresna dengan Prabu Boma itu. Pada waktu Prabu Boma perang berkendara seekor burung garuda bermuka raksasa bernama Wilmuka, burung itu dapat juga membantu berperang, ia dapat mematuk dan memupuh, tetapi kemudian Prabu Boma dan kendaraannya telah mati bersama-sama karena dipanah dengan Cakra oleh Prabu Kresna dan mayat Prabu Boma jatuh di jala-jala hingga tak mengenai bumi. Habislah riwayat Prabu Bomanarakasura.
Mula-mula Prabu Boma waktu masih anak-anak bernama Bambang Sutija. Setelah dewasa. Bambang Sutija menanyakan ramandanya pada ibu, setelah diterangkan bahwa ia adalah putra Sri Kresna, pergilah Bambang Sutija ke negeri Dwarawati, negeri Prabu Kresna.
Lantaran kesaktian Bambang Sutija, ia diminta oleh Dewa untuk membunuh seorang raja di negeri Trajutrisna. Pergilah Bambang Sutija ke negeri Trajutrisna, perang dengan raja dinegeri itu bernama Prabu Bomantara, Bambang, Sutija dapat mengalahkan Prabu Bomantara, lalu kemudian badan halus Prabu Bomantara masuk ke Bambang Sutija, kemudian Bambang Sutija menjadi raja di Trajutrisna. bernama Prabu Bomanarakasura.

BENTUK WAYANG

Prabu Boma bermata telengan, hidung dempak, berjamang tiga susun, berpraba. Kain kerajaan lengkap.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

4 Komentar

  1. Maret 13, 2011 pada 4:52 am

    ceritanya amat bagus. kalau bisa ditampilkan cerita putra putra arjuna yang 14 itu, siapa istrinya, dan siapa anaknya, dan masing masing punya keistimewaan apa.

  2. panambuja said,

    April 30, 2011 pada 10:32 pm

    kalo boleh ahu pengen tahu kisah suteja selengkapny (dari kecil sampai tewas) thanx

  3. kuman said,

    Juli 2, 2011 pada 5:25 am

    Dulu q pernah nonton wayang klit dengan lakon Bajaran Sitija Bomanarakasuro di bawakan oleh Ki purbo asmoro… kalau gk salah dia dpet ilmu pancasona karena pada waktu bayi dia masuk ketelinga rahwana yang sedang menerima ajian pacasona dari subali.. apa benar begitu pak Admin…?? (mhon keterangan) Swun….

  4. Pramudya said,

    Desember 23, 2011 pada 2:07 am

    Setahu saya dari buku dan yang pernah saya dengar dari pewayangan bahwa Bambang Sitija berkeinginan untuk membela Pandawa pada perang bharata yuda walupun sudah kena titisan Prabu Boma….bahkan sampai kapan akan membela pandawa, Bambang Sitija titisan Prabu Boma tidak memusuhi Pandawa tapi memusuhi Prabu Kresna karena iri dengan Raden Samba……entah kenapa kok ini lain ceritanya….tolong mana cerita yang benar……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: