PATIH AMONGDENTA

Patih Amongdenta

Patih Amongdenta

Amongdenta adalah seorang patih dari kerajaan Jumapala dengan rajanya Prabu Sridenta. Ia membela pada rajanya yang berkehendak akan memusnahkan Pandawa. Maka datanglah ia ke negeri Pandawa, tetapi kemudian tewas waktu perang dengan Pandawa.

BENTUK WAYANG

Amongdenta bermata plelengan putih, hidung bentuk haluan perahu, mulut terbuka tampak gigi dan taringnya. Berjamang dengan garuda membelakang dan berpraba. Sunting sekar kluwih, kalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain bentuk raja raksasa muda.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

PRABU ARJUNAPATI

Prabu Arjunapati adalah seorang raja di negeri Sriwedari, anak murid Prabu Kresna. Dia seorang murid yang sangat setia kepada guru, dan menuruti apa titah gurunya. Namun ketika ia mendapat titah untuk menyerahkan permasurinya kepada Arjuna, melawanlah ia dengan dibantu patihnya, hingga Arjuna dapat dibunuh mati. Ini adalah gambaran bahwa bertindak lalim akan mendapat hukuman, tak pandang itu Arjuna sekalipun. Arjuna kemudian dihidupkan kembali oleh Prabu Kresna dengan kesaktian bunga Wijayakusuma.

BENTUK WAYANG

Prabu Arjunapati bermata jaitan, hidung mancung, muka agak tenang. Sanggul kadal menek, berjamang tiga susun dengan garuda membelakang. Sunting waderan, berpraba, bergelang, berpontoh dan berkroncong. Selain itu juga berselendang dan kain kerajaan lengkap.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

BRAHALA

Brahala

Brahala

Brahala berasal dari seorang yang mampu bertriwikrama, berubah menjelma menjadi raksasa yang amat besar, berkepala dan bertangan banyak, dan tangan-tangan itu memegang bermacam senjata.
Dalam cerita pewayangan, yang mampu triwikrama adalah Prabu Kresna, raja di Dwarawati dan Prabu Arjunasasrabahu, raja di Maespati. Mereka itu pada saat bertriwikrama tak ada seorangpun yang kuasa melawannya.
Brahala menjadi perumpamaan kemarahan seseorang yang apabila dilawan dengan kemarahan maka akan semakin berkobar-kobar. Kemarahan itu hanya akan reda bila dihadapi dengan kesabaran.
Tersebut dalam cerita di masa perang Baratayudha hampir pecah, Prabu Kresna datang ke negeri Hastinapura dengan maksud meredakan perselisihan antara Pandawa dan Kurawa, tapi hasilnya sia-sia. Pada waktu itu Prabu Kresna bertriwikrama, menjelma menjadi raksasa sebesar bukit. Ia berdiri melangkah pura Hastinapura, kaki kiri di alun-alun selatan, sedangkan kaki kanan di alun-alun utara, sambil bersabda, “Hai, kalau aku berkehendak memusnakan pura Hastinapura beserta isinya, maka dapat jadi seketika juga, tetapi apa gunanya?!” Merukunkan kedua pihak Pandawa dan Kurawa ini juga ibarat merukunkan rasa lahir dan bathin, yang selalu berselisih, tak mudah disatukan, namun bukan hal yang mustahil.
Sedangkan triwikrama Prabu Arjunasasrabahu dapat membendung samudra, hingga air laut kering, dan para harim Seri Arjunasasrabahu dapat bersukaria mengambil ikan dengan mudah. Hal ini terjadi ketika Raden Sumantri yang akan mencoba kesaktian Baginda. Seketika itu Baginda berganti rupa seorang raksasa maha besar, hingga Sumantri tak berdaya.

BENTUK WAYANG

Brahala berbentuk raksasa dengan memiliki banyak muka, mulut terbuka dengan lidahnya menjulur, bergigi dan. bertaring. Tangannya yang banyak masing-masing memegang berbagai senjata. Wayang ini bercelana cindai.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

PRABU JUNGKUNGMARDEA

Prabu Jungkungmardea

Prabu Jungkungmardea

Prabu Jungkungmardea adalah seorang raja besar di Paranggubarja. Roman mukanya elok dan sakti, karena itu ia berani meminang Dewi Srikandi, puteri Prabu Drupada di Cempalareja. Karena Jungkungmardea seorang yang mulia, diterimalah pinangan itu oleh Prabu Drupada. Tetapi Dewi Srikandi tak suka menerimanya. Maka pergilah puteri itu kepada Arjuna mengadukan nasibnya. Mendengar itu Arjuna menjadi marah dan pergi ke Cempalareja lalu perang tanding dengan Jungkungmardea. Kemudian Jungkungmardea tewas oleh Arjuna. Kejadian ini ada dalam lakon Srikandi berguru memanah pada Arjuna.

BENTUK WAYANG

Prabu. Jungkungmardea bermata jaitan, hidung mancungj muka tenang. Berjamang tiga susun dengan, garuda membelakang, besar, sunting sekar kluwih, berpraba. Bergelang. berpontoh dan berkeroncong. Kain bokongan raton.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

PRABU PALGUNADI

Adegan Palgunadi

Adegan Palgunadi

Prabu Palgunadi seorang raja di negeri Paranggelung, murid Pendeta Durna. Raja ini sangat sakti, dan bila ia melepaskan anak panah, tak pernah salah. Kepandaian Prabu Palgunadi ini mula-mula dari pengajaran Pendeta Durna, tetapi sebenarnya Pendeta Durna mengajar Palgunadi dengan tingkat ajaran yang lebih rendah dari ajaran yang diberikan untuk Arjuna. Karena itu Prabu Palgunadi lalu belajar dengan sendirinya, tetapi dengan selalu menyebut berkah Sang Pendeta gurunya itu. Dengan mewujudkan gambar Sang Guru itu yang diletakkan disampingnya, ia belajar memanah. Berkat ketekunannya maka ia pun dapat mengalahkan kepandaian Arjuna.
Hal ini menjadikan iri hati Arjuna. Dimintanya pada gurunya supaya ia dapat mengalahkan kepandaian memanah Prabu Palgunadi itu. Tetapi Pendeta Durna berasa berat hatinya akan bertindak curang terhadap muridnya itu. Palgunadi dipanggil oleh Pendeta Durna kehadapannya dan dipotonglah jari telunjuknya yang kanan. Barang tentu perbuatan ini menyebabkan kurang kepandaiannya memanah. Tetapi setelah jari Palgunadi dipotong itu, matilah ia seketika itu juga dan meninggalkan suara, bahwa ia akan membalas dendam pada Arjuna dalam perang Baratayudha kelak.
Jari Palgunadi yang bercincin permata Sotya Ampal, ditempelkan pada tangan kanan Arjuna, seketika itu. juga jari itu lengket menjadi satu dengan jari Arjuna. Karena itu Arjuna mendapat cacat berjari telunjuk dua (J: siwil). Cacat ini acapkali diucapkan oleh Prabu Kresna sebagai nama timang-timangan Arjuna sering dipanggil oleh Sri Kresna: si Siwil.
Gambar Prabu Palgunadi dipotong jarinya berbeda dengan yang sebenarnya, karena yang dipotong itu berupa seluruh tangan, bukan jari. Hal ini dikarenakan dalam wayang tak dapat digambarkan jari, hanya tangan seluruhnya.
Bila menilik kejadian ini, Pendeta Durna bertindak tidak adil, memberatkan cintanya pada Arjuna. Baik juga untuk kesatria, Palgunadi rela berserah jiwa daripada mendapat malu, tetapi ada pembalasan juga dikemudian hari.

BENTUK WAYANG

Palgunadi bermata jaitan, hidung mancung, muka tenang, cat perada. Sanggul kadal menek, berjamang, bersunting waderan, berpraba. Kalung ulur-ulur bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain bokongan raton.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

« Older entries