DAHYANG DURNA

Dahyang Durna

Dahyang Durna

Dahyang Durna semasa mudanya bernama Bambang Kumbayana, beroman cakap dan sakti, asal dari Atasangin. Kumbayana mempunyai seorang saudara angkat bernama Bambang Sucitra, yang telah meninggalkan negerinya pergi ke tanah Jawa. Kumbayana pergi menyusul. Tetapi setelah sampai di tepi samudera, Kumbayana berhenti dengan sangat berduka cita Kumbayana berkata, bahwa siapapun juga yang dapat menyeberangkan dia dari pantai itu hingga sampai di pantai tanah Jawa, jika ia laki-laki akan diaku jadi saudara, jika ia perempuan akan diambil jadi isteri.
Setelah berkata itu datanglah seekor kuda betina bersayap (Jawa: kuda sembrani) mendekatinya. Kumbayana merasa bahwa kuda itulah yang akan menolongnya menyeberangkan. Maka Kumbayana mengendarai kuda itu dan terbanglah ia secepat kilat, hingga sampailah di daratan tanah Jawa. Setelah Kumbayana turun, kuda itu melahirkan seorang anak laki-laki, kemudian ia berubah menjadi seorang bidadari bernama Dewi Wilotama, dan terus terbang. Ke angkasa. Anak itu diberi nama Bambang Aswatama.
Kumbayana makin. susah, karena dalam perjalanan itu harus membawa bayi. Kemudian sampai juga ia ke Cempalareja, negeri saudara angkatnya; Bambang Sucitra, yang telah bertahta di sana dan bergelar Prabu Drupada.
Mendengar itu Kumbayana amat bersukacita, ia terus masuk di balairung, dan ketika dikenalnya saudara angkat itu, ia berseru: Sucitra, Sucitra!” Gandamana, ipar Prabu Drupada, sangat murka mendengar seruan Kumbayana itu. Perbuatan itu dipandang menghina, dan Kumbayana dianiaya hingga cacat badannya. Prabu Drupada mengetahui kejadian sangat menyesal. Kumbayana lalu dirawar dan tinggal di Sokalima, bernama Dahyang Durna. Kemudian Durna menghambakan diri pada raja Hastinapura, Sri Duryudana dan diangkat jadi pendeta dan guru sekalian Kurawa dan Pandawa.
Sebenarnya ia seorang pendeta bijaksana, guru Pandawa dan Kurawa. Wrekudaralah seorang anak muridnya yang sejati. Adapun pada mulanya memang Wrekudara diperdayanya, diperintahkan terjun ke dalam laut supaya mati. Tapi segala petunjuk Durna yang demikian itu malahan menjadikan kesempumaan ilmunya atas petunjuk Dewa Ruci, dewanya Wrekudara yang sebenarnya.
Dalam perang Baratayudha, Durna tewas oleh Raden, Drustajumena kena tusukan keris yang telah kemasukan jiwa Prabu Palgunadi, yang membalas dendam pada Durna.

BENTUK WAYANG

Dahyang Durna bermata kriyipan, hidung mungkal gerang, seperti batu asahan yang telah aus. Mulut gusen (bergusi). Dagu mengerut, akan tanda bahwa dagu seorang tua, beryanggut. Bertarbus. Rambut bersanggul. Berkain bentuk rapekan pendeta. Tangan hanya dapat digerakkan yang belakang. Tangan yang lain memegang tasbih. Bercelana cindai dan bersepatu.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

4 Komentar

  1. ks bhima said,

    Juni 27, 2010 pada 5:34 am

    di coba kisah pewyangan yang lainnya…

  2. ki jadul said,

    Oktober 6, 2010 pada 1:56 pm

    jaman sekarang banyak durno2…pake tarbus/ asal tarbus darimana ya. Jangan2 Durna asalnya timur tengah…?

  3. Juni 8, 2011 pada 11:53 am

    WAYANG ADALAH WUJUD PNJARAN PD KITA,.

  4. Sastrowijoyo said,

    April 3, 2014 pada 6:00 am

    Durna seorang ahli perang, guru tapi tabiatnya congkak, sombong dan tinggi hati. Sifat-sifatnya dapat diketahui oleh orang banyak. Lebih berbahaya Sengkuni, lemah lembut, santun tapi culas, suka adu domba dan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan dengan berbuat jahat. Contoh: Sengkuni ingin menduduki jabatan Patih (PM) di negeri Astina, maka dia memfitnah Patih Gandamana yang sedang diutus ke negeri Pringgodani dengan dilaporkan kepada Raja Pandu, bahwa Gandamana bersekutu dengan musuh. Lalu Pandu mencopot jabatan Gandamana sebagai patih dan sesuai dengan keinginannya Sengkuni diangkat menjadi patih. Ketika Gandamana tiba, semua pengaduan Sengkuni yang dituduhkan kepada Gandamana, diungkapkan Pandu. Gandamana menyangkal, karena tidak merasa melakukan, ketika diklarifikasi kepada Sengkuni, dia mengatakan kebohohangannya dengan santainya. Tetapi karena Pandu sudah terlanjur menunjuk Sengkuni sebagai patih, maka Pandu tidak mau mencabutnya. Akhirnya Gandamana menyeret Sengkuni dari sitihinggil dan kemudian dianiaya di alun-alun kerajaan hingga cacat seumur hidup.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: