PATIH HARYA SAKUNI

Patih Harya Sakuni

Patih Harya Sakuni

Patih Harya Sakuni, putera raja di Palasajenar; ia yang akan menggantikan raja kelak. Waktu mudanya bernama Harya Suman. Pada waktu negeri Madura di bawah perintah Prabu Kuntiboja, baginda mengadakan perlombaan memilih laki-laki untuk suami Dewi Kunti. Harya Sakuni turut ke medan perlombaan diikuti oleh saudaranya yang perempuan bernama Dewi Gandari, tetapi ia terlambat. Di jalan ia berjumpa dengan Raden Pandu, yang telah mendapat kemenangan. Harya Sakuni hendak merebut puteri Kunti, maka terjadilah peperangan, Harya Sakuni kalah dan menyerahkan saudaranya Dewi Gandari sebagai pembayaran kekalahannya itu.
Setiba di negeri Hastinapura, Dewi Gandari diperistri oleh Raden Destarastra. Setelah Destarastra bertahta di Hastinapura, Harya Sakuni diangkat menjadi Patih. Harya Sakuni seorang yang pandai berbicara, tetapi tak jujur. Kepandaian itu senantiasa dipergunakannya untuk tipu daya saja. Tetapi oleh karena, kepandaiannya, berguna juga ia bagi negeri Hastinapura. Adat istiadat Harya Sakuni yang semacam itu jadi peribahasa Jawa, orang yang berkelakuan demikian, disebut sebagai Sakuni. Patih Sakuni adalah seorang yang pandai berkata, apa segala katanya, pandai memutar bahasa, hingga dapat melibas lawan bicaranya. Sebarang katanya enak didengar orang dan orang yang mendengar dapat tertarik seperti kena guna pengasih.
Menilik asal usul Sakuni, dia memang seorang yang mulia, sebenarnya ia berhak menjadi raja di negeri Palasajenar, tetapi setelah ia mengikuti saudara perempuan yang dipermaisuri oleh raja Hastinapura, Prabu Destarastra, yang berputra seratus orang, Sakuni merasa berat meninggalkan Hastinapura.
Di negeri Hastinapura Harya Sakuni mempunyai sahabat karib, ialah Pandita Durna yang satu haluan tabiatnya. Kedua orang ini dapat disebut pemimpin negeri Hastinapura. Tetapi untuk umumnya dalam pewayangan dianggap tak baik, pada hal kedua orang ini bukan orang sembarangan, cuma saja, oleh karena mereka itu orang-orang pihak Hastinapura lantas dipandang hina. Dalam perang Baratayudha, Sakuni mati disobek mulutnya oleh Wrekudara.

BENTUK WAYANG

Sakuni bermata kedondongan, hidung bentuk batu asahan yang telah aus (Jawa: mungkal gerang), bergigi gusen, beryanggut. Kedua tangannya berlainan bentuk, satu tangan raksasa, satu tangan menunjuk, seperti tangan dagelan. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kepala berketu udeng, bersunting sekar kluwih. Berkalung ulur-ulur. Berkain rapekan tentara, bercelana cindai. Dalam cerita Sakuni sakit pernafasan. Menurut gambar wayang Sakuni itu, bahu tangan belakang agak naik, sebagai tanda seorang sakit pernafasan.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: