PRABU PALGUNADI

Adegan Palgunadi

Adegan Palgunadi

Prabu Palgunadi seorang raja di negeri Paranggelung, murid Pendeta Durna. Raja ini sangat sakti, dan bila ia melepaskan anak panah, tak pernah salah. Kepandaian Prabu Palgunadi ini mula-mula dari pengajaran Pendeta Durna, tetapi sebenarnya Pendeta Durna mengajar Palgunadi dengan tingkat ajaran yang lebih rendah dari ajaran yang diberikan untuk Arjuna. Karena itu Prabu Palgunadi lalu belajar dengan sendirinya, tetapi dengan selalu menyebut berkah Sang Pendeta gurunya itu. Dengan mewujudkan gambar Sang Guru itu yang diletakkan disampingnya, ia belajar memanah. Berkat ketekunannya maka ia pun dapat mengalahkan kepandaian Arjuna.
Hal ini menjadikan iri hati Arjuna. Dimintanya pada gurunya supaya ia dapat mengalahkan kepandaian memanah Prabu Palgunadi itu. Tetapi Pendeta Durna berasa berat hatinya akan bertindak curang terhadap muridnya itu. Palgunadi dipanggil oleh Pendeta Durna kehadapannya dan dipotonglah jari telunjuknya yang kanan. Barang tentu perbuatan ini menyebabkan kurang kepandaiannya memanah. Tetapi setelah jari Palgunadi dipotong itu, matilah ia seketika itu juga dan meninggalkan suara, bahwa ia akan membalas dendam pada Arjuna dalam perang Baratayudha kelak.
Jari Palgunadi yang bercincin permata Sotya Ampal, ditempelkan pada tangan kanan Arjuna, seketika itu. juga jari itu lengket menjadi satu dengan jari Arjuna. Karena itu Arjuna mendapat cacat berjari telunjuk dua (J: siwil). Cacat ini acapkali diucapkan oleh Prabu Kresna sebagai nama timang-timangan Arjuna sering dipanggil oleh Sri Kresna: si Siwil.
Gambar Prabu Palgunadi dipotong jarinya berbeda dengan yang sebenarnya, karena yang dipotong itu berupa seluruh tangan, bukan jari. Hal ini dikarenakan dalam wayang tak dapat digambarkan jari, hanya tangan seluruhnya.
Bila menilik kejadian ini, Pendeta Durna bertindak tidak adil, memberatkan cintanya pada Arjuna. Baik juga untuk kesatria, Palgunadi rela berserah jiwa daripada mendapat malu, tetapi ada pembalasan juga dikemudian hari.

BENTUK WAYANG

Palgunadi bermata jaitan, hidung mancung, muka tenang, cat perada. Sanggul kadal menek, berjamang, bersunting waderan, berpraba. Kalung ulur-ulur bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain bokongan raton.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

3 Komentar

  1. sugiarno said,

    Mei 7, 2010 pada 6:16 am

    Tragis, demi sebuah pengabdian …

  2. earl07 said,

    Mei 31, 2010 pada 5:41 pm

    kecewa aq ma Arjuna,

    dmn ksatrianya?
    Arjuna kyak gitu gmn bisa jd contoh!
    my only last hero is Bratasena

    oya, pmbalsn palgunadi di bharatayudha bentuknya spt ap?

    • pal gunadi said,

      Desember 6, 2011 pada 8:48 am

      heeeeeeeeeey
      nama saya pal gunadi,,,,
      kurang ajar, kalau aja arjuna masih hidup…
      gua ajak 1 by 1


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: