Aransemen Motif

Tidak puas dengan aransemen yang ada ? Anda dapat membuat aransemen sendiri. Walaupun terbatas pada empat motif, namun rasanya sudah cukup memuaskan.

Gambar diatas memperlihatkan mode kotak (representasi sebuah motif dalam bentuk kotak). Berikut adalah petunjuk penggunaan :

  1. Pilih motif yang ingin dimodifikasi (dalam contoh adalah motif A)
  2. Kolon vertikal adalah perwakilan dari ketukan (dari ketukan pertama sampai ke enambelas). Satu ketukan diwakili oleh 2 kotak.
  3. Baris horizontal menggambarkan ketinggian nada, pada jenis gamelan degung seperti dalam contoh adalah da, mi, na, ti, la. Selain itu setiap nada diwakili oleh warna tertentu.
  4. Untuk menuliskan sebuah nada, cukup dengan mengklik sebuah kotak. Dalam satu baris, dibatasi oleh 1 nada.
  5. Untuk membersihkan nada nada dari sebuah instrumen. Klik nama instrumen yang terletak pada bagian atas sembari menekan tombol Shift.
  6. Untuk menjiplak motif aktual (dalam contoh motif A) ke motif lain, klik motif yang hendak anda ubah (tombol A, B, C atau D yang terletak dipinggir kiri) sembari menekan tombol Shif.
  7. Untuk menyimpan hasil karya anda, klik motif aktual dimenu kiri (dalam contoh motif A) sembari menekan Shift.
    • Bila anda menggunakan aplikasi yang diunduh, hasilnya akan disimpan di directory Prefs.
    • Bila anda memainkan secara langsung di Internet, hasilnya akan disimpan dikomputer anda tapi tempatnya tidak tetap dan anda harus mencarinya sendiri.
  8. Nama filenya adalah : gamelanBaris.txt, gamelanGilak.txt, gamelanLadrang1.txt, gamelanLadrang2.txt, gamelanLancaran.txt dan gamelanSekar.txt.
  9. Ganti nama file dengan nama pilihan anda (atau pindahkan file ke directory lain), sebelum membuat aransemen lain.

Silahkan mencoba.

Kesimpulan

3 Komentar

  1. Catherine Basset (Kati, Mbok Tu) said,

    Januari 23, 2009 pada 8:20 pm

    Maaf tadi saat nulis komentar pertama, saya belum lihat bahwa bagian notasi vertikal sudah diperkenalkan.
    Namun masih ada bagian Gamelan Mecanique bernotasi BUNDAR yang belum terlihat disini. Sedangkan itulah yang saya anggap paling penting. Penemuan bentuk KEMBANG/MANDALA dalam karawitan telah mempengaruhi seluruh pandangan saya terhadap budaya Hindu-Jawa dan Jawa-Bali, bahkan seluruh pandangan hidup dan gaya kehidupan saya. Setelah itu banyak sesuatu menjadi terang, semakin terang dan gampang, dan penemuan saya bertambah banyak. Dan saya juga jadi merasa semakin kagum terhadap budaya tradisional Jawa, Bali, Sunda dll, serta lebih mengerti beberapa segi dari budaya Indonesia yang modern. Watak sombong khas Perancis telah berkurang dalam diriku. Misalnya : karangan orang Indonesia mengenai tradisi yang sering dianggap kurang bermutu oleh orang-2 Barat sekarang saya hargai ; saya tahu bahwa orang Barat mengetawai atau menghina karangan-2 Indonesia tersebut hanya karena tidak mengerti.
    Saya tidak mengerti kenapa belum ada orang Indonesia yang tertarik oleh penemuan tersebut. Paling-paling mereka mengaku tertarik oleh teknisnya, tapi diam aja mengenai asal-usul filsafat dan teorinya.
    Jangan merasa malu (seperti dalam Kesimpulan) kalau situs seperti itu dibuat di luar Indonesia. Kalau saya ditanya tentang kebudayaan Perancis, saya hampir tidak tahu apa-apa. Bahkan dalam antropologi, pada dasarnya harusnya selalu budaya asing yang diselidiki, jangan budaya sendiri. Dari dekat orang tak lihat apa. Dan sering tidak perlu lihat, karena sudah praktek langsung.
    Saya juga anggap wajar bila gamelan mecanique dibuat di Perancis: gamelan yang benar jarang sekali ada, maka perlu dibuat yang falsu yang gampang dipukul oleh siapapun. Sedangkan di Indonesia, yang penting kan supaya gamelan logam atau bambu tetap dipukul, itu yang kami harapkan!
    Seni yang sebenarnya tidak ada dalam Gamelan Mecanique, yaitu suatu rencana pendikikan saja. Yang seni tetap berada di Indonesia.
    Dan pada kesimpulan, saya tidak pernah bersaing, tidak suka sifat kompetisi dan tidak melihat hidup sebagai usaha bersaing antar budaya.
    Yang paling mengawatirkan, bagi saya, adalah pengaruh cara pikir Barat, misalnya yang linear dan dualistis (manicheisme) serta tidak mengerti dengan Tribuwana, bila jadi umum di Asia sampai cara berpikir setempat bisa hilang. Karena sebetulnya, kebudayaan Barat perlu belajar dari Timur dalam masa Kali Yuga.

  2. Ugi Daeli said,

    Oktober 19, 2010 pada 1:16 am

    Salute, Mbok Tu.. Salute..

  3. Oktober 9, 2012 pada 1:45 am

    terima kasih atas informasi yang telah di berikan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: