RASEKSI

Raseksi

Raseksi

Raseksi ialah sebutan untuk raksasa perempuan, atau isteri seorang raksasa. Dalam lakon, wayang ini hanya dimainkan sebagai pengganti rupa orang atau Dewa yang mendapat tulah/kutukan karena kemurkaan Dewa yang lebih berkuasa. Dan kemudian harus diruwat oleh orang yang mampu meruwatnya. Umumnya dalam pewayangan yang dapat meruwat adalah kesatria yang berperang dengan raksasa itu.

BENTUK WAYANG

Raseksi bermata kelipan (sipit), hidung bentuk haluan perahu, mulut krenyih. Bergelang, dan di pinggang tersisip golok, dan badan bagian atas tak berpakaian. Dalang mewayangkan wayang ini sering menjadikan buah dada yang terbuka ini sebagai bahan jenaka ketika raseksi berjumpa dengan kesatria yang diiringi oleh Semar, Gareng dan Petruk, dan seringkali menjadi lelucon oleh Petruk yang bengal.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

Iklan

RAKSASA HUTAN

Raksasa Hutan

Raksasa Hutan

Wayang raksasa hutan ini hanya dimainkan sebagai pengganti rupa seseorang atau dewa dalam suatu lakon yang kemudian akan berganti rupa yang sejati. Misalnya seorang Dewa berganti rupa raksasa hutan, yang berkehendak akan menggoda seorang kesatria. Hal ini kebanyakan terjadi dari perbuatan Dewa Hyang Kamajaya dan Dewi Ratih, berupa raksasa (Iaki-laki) dan raseksi (perempuan). Namun bisa pula raksasa itu berasal dari seorang yang mendapat tulah/kutukan dari Dewa dan akan kembali ke wujudnya semula.

BENTUK WAYANG

Raksasa hutan bermata kelipan (sipit). Bentuk mata seperti ini pertanda bahwa raksasa itu berpandangan tajam dan buas. Hidung berbentuk haluan perahu, mulut terbuka tertampak gigi dan taringnya, rambut bergumpal-gumpal tak terurus, berkain rapekan tak bercelana. Bersunting daun dan bunga. Tangan hanya dapat digerakkan yang hadapan.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

WAHMUKA

Wahmuka

Wahmuka

Wahmuka seorang raksasa berasal dari kawah (air ketuban ) anak dari puteri kembar tiga, bernama Dewi Amba, Ambika dan Ambalika ialah puteri-putri raja di Giantipura. Raksasa itu senantiasa merintangi jika ketiga puteri itu dipinang orang dan karena kesaktiannya tak adalah pinangan orang yang terkabul. Kemudian raksasa itu dikalahkan oleh Raden Dewabrata, kembali pada asalnya berupa air ketuban.

BENTUK WAYANG

Wahmuka bermata plelengan (mata lebar), nampak gigi dan taringnya. Berpakaian: jamang dengan garuda membelakang, bersunting sekar kluwih (bunga buah timbul, sukun berbiji). Berkalung birawa ulur-ulur, bergelang dan berpontoh sebagai pakaian raksasa raja. Berkain kebesaran. Tangan dapat digerakkan yang bagian depan.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

BUTO TERONG

Buto Terong

Buto Terong

Buto berarti raksasa, dan terong adalah buah tanaman terung. Disebut Buto Terong karena hidungnya yang seperti terong. Raksasa ini dikenal orang, sebagai raksasa perusak keamanan, sebenarnya ia merusak bukan karena kebuasannya, melainkan karena ia kuat makan dan tidak pernah merasa puas dengan makanannya. Hakikatnya orang yang tamak, tak ada rasa puasnya. Suara raksasa ini sengau (bindeng).

BENTUK WAYANG

Buta Terong bermata juling, hidung bentuk buah terung. Bergigi dan bertaring, bahu tinggi sebelah. Rambut terhias, bersunting sekar kluwih dengan terhias pula. Berkalung ulur-ulur lebih nyata. Bergelang, berkeris gayaman. Kain rapekan.

Raksasa ini juga digunakan untuk mengingat tahun pembuatannya dengan kata: buta lima mangsa janma = 1655

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.