Bentuk Mata Wayang Purwa

Berikut adalah galeri bentuk mata wayang purwa gagrak (gaya) yogyakarta. Setiap bentuk memiliki arti dan makna tersendiri.

Sumber Wayang kulit purwa gaya Yogyakarta oleh Drs Sunarto

Wayang kulit purwa gaya Yogyakarta

Gabung dengan wayangku

Halo semua,

Setelah lama saya tidak dapat menambah isi dari blog wayangku (karena kekurangan waktu dan bahan) saya memutuskan untuk membuka kesempatan kepada teman-teman yang ingin membagi ceritanya mengenai wayang (atau yang berhubungan dengan wayang) untuk menuliskan di blog ini.

Idealnya mungkin mengenai lakon lakon pewayangan yang sering dimainkan oleh dalang-dalang. Mungkin setelah menonton wayang, punya ide tulisan bisa ditulis disini.

Bagi yang ingin bergabung silahkan menuliskan emailnya di fasilitas komentar (komentar ini dimoderasi sehingga tidak akan terlihat) yang kemudian akan dijadikan salah satu author (penulis) dari blog ini.

Kemudian saya juga ingin mengundang teman-teman bergabung dengan group wayangku di facebook untuk membahas apa saja yang dapat diisi di blog wayangku.

Selamat bergabung.

Kayon, Pohon kehidupan

Gallery Kayon atau gunungan dari bermacam-macam daerah di Indonesia dan bermacam-macam jenis wayang. Sumber dari dGareng.

SIASAT PERANG WULAN TUMANGGAL

Siasat Perang Wulan Tumanggal
Siasat Perang Wulan Tumanggal

Siasat perang ini diibaratkan seperti bentuk bulan sabit, dimana seolah-olah wujudnya tidak membahayakan. Tetapi sesungguhnya siasat ini membahayakan karena di ujung sudut dan di tengah barisan selalu siap sedia dengan gerakan yang mudah dilakukan.
Selain dari siasat perang yang digambarkan ini, masih ada pula siasat lain-lainnya, seperti :

  • Jaladri pasang, yaitu samudera yang sedang pasang airnya, dimana gerak-gerik pasukan diibaratkan air laut pasang yang mematikan.
  • Emprit neba, ialah burung emprit yang datang menyerbu serentak di sawah. Oleh karena burung-burung menyerbu dalam jumlah banyak, maka rusaklah tanaman padi yang diibaratkan sebagai musuh.

Ada peribahasa Jawa yang berbunyi: Kinepung wakuI binaya mangap, yang artinja dikelilingi seperti pertemuan bingkai bakul dan seperti bertemu dengan buaya ternganga mulutnya. Berarti bahaya yang tak dapat dihindari.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

SIASAT PERANG DIRADAMETA

Siasat Perang Dirada Meta

Siasat Perang Dirada Meta

Diradameta artinya gajah yang sedang marah. Siasat ini menggambarkan kemarahan seekor gajah. Kemarahan yang mengagumkan (sekaligus mengerikan), belalai dan gading gajah itu sangat membahayakan. Dan kekuatannya pun maha dahsyat.
Siasat perang Diradameta ini digunakan Kurawa dalam perang Baratayudha, dimana Prabu Duryudana bertempat di tengkuk dengan Arja Sindurja (Jayadrata) dan Adipati Awangga, barisan Kurawa membentuk gading, sedangkan Prabu Bagadenta sebagai belalai gajah, dan Dahyang Durna berada di kepala gajah.
Bertempur antara Pandawa dan Kurawa dimisalkan seperti laut beradu gelombang, bergema hingga menjulang ke angkasa, dan menggelisahkan Suralaya, maka para Dewa di Suralaya menurunkan hujan bunga ke medan perang itu untuk penghiburan.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

« Entri lama